Nyamuk (pixabay)
FacebookTwitterEmailGmailWhatsApp

Komitmen – Zalimnya Raja Namrud mati oleh Nyamuk., lantas pertanyaannya sekarang masih adakah pemimpin zalim seperti Raja Namrudz di masa Millenial seperti sekarang ini. Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang itu penggalan lirik lagunya Ebit G. Ade.

Disebuah Negara Babilonia yang konon lokasinya di antara Sungai Furad dan Dajlah. Karenanya dianggap sebagai Negara agraris yang subur dan makmur. Sayangnya, rakyat di sana dalam keadaan sesat dan kafir. Kebiasaannya menyembah berhala dan mempertuhankannya.

Selain sesat dan kafir, negara Babilonia ketika itu diperintah oleh seorang raja yang juga kejam dan angkara murka, sangat rakus, tamak. Semua kekayaan alam di negeri itu dirampas dari tangan rakyat dengan dalih sebagai modal pembangunan.

Tetapi yang sebenarnya, hanyalah demi kepentingan dirinyadinastinya, untuk kemakmuran keluarganya, anak-anak dan kawan-kawannya.

Saking rakusnya, perlahan namun pasti krisis ekonomi melanda rakyat Babilonia. Tak sedikit rakyat yang mati kelaparan, dan kehilangan pekerjaan. Rakyat semakin menderita karena hidup dalam keadaan tidak menentu.

Rakyatnnya sendiri diintimidasi, diperlakukan tidak adil dan sewenang-wenang. Rakyat atau warga yang kritis disikat habis, pembangkang, pemberontak dibunuh dan dianiaya.

Kekejaman Namrudz menjalar ke pejabat-pejabatnya. Pejabat-pejabat ini berlaku bejat tak punya rasa kemanusiaan. Hak-hak rakyat sebagai manusia dirampas dan dikebiri.

Tak mempedulikan rakyatnya yang melarat, asal pejabatnya bisa hidup bersenang-senang, bergaya hidup mewah, berfoya-foya bersama koleganya, masa bodoh dengan penderitaan rakyatnya. Siapapun yang dianggap duri dalam daging bakal disikat, dibunuh tanpa belas kasih.

Saking sombongnya, Raja Namrudz mengaku dirinya sebagai Tuhan dan menentang adanya Allah SWT. Dia mempropagandakan bahwa dirinya bisa menghidupi manusia dan sekaligus mematikannya.

Raja Namrudz yang sombong dan dzalim ini begitu pongah terhadap Nabi Ibrahim tidak mempercai keberadaan Tuhannya Nabi Ibrahim (yaitu Allah), karena Allah telah memberikan kepada Namrudz kerajaan (kekuasaan).

Baca juga :   Rohimah Menggugat Cerai, Kiwil Poligami “Lagi”

Ketika Nabi Ibrahim mengatakan: Tuhanku adalah Allah yang menghidupkan dan mematikan. Kemudian Namrudz berkata, aku bisa menghidupkan dan mematikan. Maka kemudian Namrudz memanggil dua orang, yang satu dibunuh lainnya dibiarkan hidup karena tidak dibunuhnya.

Habislah hujjah Namrudz beserta para pendukungnya. Mereka dapat dikalahkan dengan telak dalam perdebatan dengan Ibrahim.

Namun demikian, Namrudz dan para pengikutnya tidak mau tunduk dan mengakui kekalahannya. Bahkan mereka bertambha marah dan dengki.

Setelah Ibrahim menjelaskan ketidak-benaran menuhankan sesuatu selain Allah di hadapan Namrudz dan para pendukungnya dengan hujjah (bukti) yang kuat. Dengan demikian bukti yang dikemukakan Namrudz dapat dipatahkan. Namun Namruz sang kepala batu itu tetap saja tak mau mengakui adanya Tuhan Allah SWT.

Nabi Ibrahim kemudian ditangkap dan dihukum dengan cara dibakar hidup-hidup. Namrudz memerintahkan rakyatnya untuk mengumpulkan kayu bakar di tanah lapang sebanyak-banyaknya. Penduduk kemudian menyaksikan aksi itu. Kayu-kayu bakar ditumpuk sempai menggunung. Kemudian dinyalakan. Api terus berkobar dan siap melahap apa saja yang didekatnya.

Dengan tangan dan kaki terikat, Ibrahim dilempar ke kobaran api. Bersamaan dengan itu datanglah Malaikat menawarkan pertolongannya. Namun Ibrahim menolaknya karena ia yakin Allah akan menolongnya.

Suatu keajaiban yang luar biasa karena Ibrahim ternyata tetap sehat bugar, selamat dari ancaman mara bahaya.

Bentuk kekejaman Raja Namrudz lainnya adalah, atas berita yang disampaikan oleh ahli nujum kepadanya yang isinya bahwa dalam tahun ini akan lahir bayi yang kelak dapat menghancurkan kekuasaan Namrudz.

Mendengar berita itu Namrudz memerintahkan kepada para pejabat dan algojonya untuk membersihkan bayi laki-laki yang lahir, lalu dibunuh. Sungguh kejam Namrudz dalam menjalakan kekuasaannya.

Baca juga :   Begini Perjalanan Hidup Pengidola Pramoedya Ananta Toer

Untuk membunuh pemimpin dzalim seperti raja Namrudz, pada suatu hari yang telah Allah tentukan mengirim ribuan nyamuk untuk memangsa kermunan pesta kaum Namrudz. Tanpa ampun nyamuk-nyamuk tersebut menghisap habis darah-darah pejabat-pejabat dan tiraninya yang lalim itu dan hanya menyisakan kulit serta tulang belulangnya saja.

Raja Namrud konon mengatakan dirinya Tuhan ini pun ngacir terbirit-birit mencari tempat sembunyi dan meloloskan diri di ruangan pribadinya. Gerombolan nyamuk-nyamuk itu tetap mengejar Raja Zalim ini sampai ke ruang persembunyian sang Namrud. Sekuat tenaga Namrud mengusir nyamuk yang berkecamuk menyengati tubuhnya. Salah satu nyamuk berhasil masuk lubang hidungnya hingga membuat kepalanya pusing tujuh keliling saking tak kuat akan sengatan nyamuk sekecil itu.

Namrud pemimpin yang sombong itu susah payah menghalau nyamuk dengan sekuat tenaga dengan menggunakan papan memukuli kepalanya sendiri. Selama hingga 400 tahun lamanya hidupnya Namrud tersiksa hingga meninggal dunia dalam keadaan dzalim

Sungguh miris, Raja zdalim ini semasa hidupnya begitu angkuh, sombong dan kemaruk ini, matinya bukan karen tombak panah melainkan sang diktator itu mati akibat sengatan nyamuk yang ukurannya begitu kecil.

Pertanyaannya sekarang, masih adakah pemimpin zaman milenial ini memiliki sifat seperti Raja Namruzd.

Nah, semoga kematian pemimpin zalim seperti Raja Namrud menjadi pelajaran bagi kita semua, ternyata kesombongan Raja yang boleh dikatakan super power itu mati oleh seekor nyamuk.