WCD 2020, Perempuan Ini Bukan Relawan Biasa

Komitmen, Makassar – World Clean up Day (WCD) yang dihelat 187 negara, 34 Provinsi di Indonesia, 24 Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan (Sulsel), berlangsung meriah 19 September ditengah Pembatasan Sosial (sosial distancing) masa normal baru (new normal) akibat Pandemi Covid-19.

Memperketat protokol kesehatan anjuran World Health Organisation (WHO) dan rujukan prosedure Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bentuk implementasi saling menjaga.

Core Team (CT) WCD Sulsel dimotori 10 orang relawan, 6 diantaranya Perempuan, Rahima Rahman salah satu dari 6 perempuan hebat. Yang memusatkan kegiatan di Kelurahan Cambayya, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar.

“Berawal di tahun 2016 saya mulai aktif terlibat gerakan yang konsen pada lingkungan dengan membawa nama lembaga Marine Science Diving Club Universitas Hasanuddin (MSDC UH). Berlanjut tahun 2017 saya sudah terlibat aksi Indonesia Cleanup Day (ICUD 2017), namun masih dalam bentuk kampanye juga ke masyarakat, seperti di Car Free Day (CFD) dan ruang publik lainnya,” jelas Rahima Rahma kepada awak media, Selasa (22/9/2020)

Kemampuan pemuda berada di tengah-tengah masyarakat perlu terus menjadi salah satu fokus pembelajaran, mengingat setiap pemuda dipersiapkan menjadi pemimpin.

“Di tahun 2018 saya tidak menyia-nyiakan amanah untuk menjadi leader WCD Kota Makassar, berlanjut 2019 merasa belum maksimal di tahun sebelumnya, ambisiku membara untuk memimpin tim, dan baru-baru ini saya tergabung di tim WCD provinsi”  ungkap Ima sapaan akrabnya

Baca juga :   Budayakan Gotong Royong, Warga Apresiasi Babinsa Sumber Harapan

Tahun ke 3 WCD menyasar daerah pesisir dengan titik yang berbeda, punya tantangan berbeda.

“Menumbuhkan hingga merawat kesadaran bersama menjaga lingkungan, bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan sekali action (aksi). Memerlukan pendekatan yang lebih serta program kegiatan berkelanjutan,” terang Ima jebolan Ilmu Kelautan Unhas.

Kita perlu berada diantara mereka bukan hanya sehari, sambung Rahima, siapa kita yang baru datang sebagai orang yang tidak dikenal. Penting membangun hubungan emosional, mereduksi stigma perbedaan dan sekat berjarak sehingga kita dan masyarakat tidak ada rasa canggung,

“Dengan demikian pemuda berkesempatan belajar lebih banyak dari masyarakat dan saling mengedukasi, sederhananya ada simbiosis mutualisme (saling menguntungkan dua belah pihak),” pungkas perempuan asal Kabupaten Maros yang juga memiliki kemampuan menyelam (Penyelam).

Aktif mengikuti kegiatan sosial tidak hanya membawa manfaat terhadap soft skill, relasi personal. Banyak teman dekat yang tidak segan menawarkan diri untuk ikut terlibat,

“Sering juga saya mengajak teman-teman lain terlibat, tidak hanya membawa identitas diri tapi beberapa mengikutkan lembaga yang tentu mengajak lebih banyak pejabat teras lembaga. Ini juga menambah relasi secara kelembagaan yang berpeluang aksi kolaborasi dengan kegiatan berbeda,” terang Ima lebih jauh.

Baca juga :   Apel Dansat Tersebar Kodam Hasanuddin Resmi Ditutup

Berangkat dari niat yang baik bukan jaminan perjalanan tetap lancar, kerap diperhadapkan terpaan masalah. Masalah ada dua sisi, internal dan eksternal tim.

“Di lokasi WCD tahun ini kita sempat ditolak untuk melakukan aksi bersih-bersih, dengan dalih sampai kapanpun sampah tidak akan habis,” ungkap Ima.

Menjawab kontra yang timbul memerlukan kesabaran membangun kesepahaman. “Kita adalah bagian dari masyarakat hanya berbeda tempat bermukim, budaya dan kondisi soial yang yang mempengaruhi pola pikir. Saling memahami dari gambaran hal-hal kecil, menganalogikan hal kecil yang akan berdampak besar dikehidupan,”  tandas Ima.

Menurutnya, perempuan mempunyai potensi kapasitas yang sama dengan yang lainnya, dan perempuan memegang peran penting dalam gerakan menjaga lingkungan. “Saya memilih melibatkan diri pada gerakan kerelawanan, karena perempuan aset besar gerakan sosial,” tutup Ima perempuan yang pro aktif terhadap lingkungan ini.