FacebookTwitterEmailGmailWhatsApp

Komitmen, Makassar  ––  Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Cabang Makassar bersama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Makassar Timur akan berkunjung ke Pulau Sangkarrang untuk mengawal gerakan penolakan tambang pasir yang terjadi di Sangkarrang. Jumat, (3/7/2020).

Ketua HMI MPO Cabang Makassar, Faikar menyebut, gerakan penolakan pengerukan pasir untuk keperluan reklamasi itu harus didukung dan dikawal. Sebab, tambang pasir laut dan reklamasi pesisir Makassar ini merupakan sumber bencana sosio-ekologis di pesisir dan laut Sulawesi Selatan.

Faikar menyebut, berdasar informasi dan kajian HMI Cabang Makassar, PT Boskalis asal Belanda sebagai kontraktor tambang pasir laut merupakan aktor salah satu utama bisnis dekstruktif ini.

“Insha Allah kita akan berkunjung ke Pulau Sangkarrang Sabtu besok bersama beberapa teman pemuda untuk bertemu masyarakat dan melihat langsung lokasi penambangan yang dilakukan PT Boskalis,” kata Faikar.

Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kecamatan Sangkarrang juga menyesalkan aktivitas tambang tersebut.

Menurutnya, pulau yang memiliki pemandangan yang indah seharusnya dikembangkan menjadi kawasan pariwisata, bukan malah dijadikan kawasan tambang pasir laut.

“Tidak itu saja, jika hal ini tidak cepat dicegah tidak menutup kemungkinan akan berimbas kepada masyarakat yang ada disekitar pulau, seperti abrasi”.

Muslim Haq. M. Ketua Umum IMM Makassar Timur sangat menyayangkan adanya aksi penambangan pasir di kawasan Pulau Sangkarrang. Sebab hal tersebut mengancam mata pencaharian para warga setempat sebagai nelayan.

Baca juga :   BKSDA Bali Bersinergi Dengan KPP Saba Asri Lepasliarkan Penyu

Selain itu, ekosistem laut pun ikut terancam sehingga dikhawatirkan akan muncul masalah baru jika tambang tersebut tetap dilanjutkan. Karena itu, operasi tambang ini harus dihentikan sebagai solusi terbaik dari permasalahan ini.

Kemudian kami juga meminta kepada semua pihak baik unsur pemerintahan maupun non pemerintahan untuk terlibat dan mengambil peran masing-masing dalam menolak aksi tambang pasir ini.