Guru
FacebookTwitterEmailGmailWhatsApp

Komitmen, Jakarta – Beberapa hari belakangan ini viral terkait pemberitaan adanya oknum Guru SMA Negeri 58 Jakarta yang mengajak murid-muridnya untuk memilih Ketua dan Wakil Ketua Osis yang seagama. Hal ini tentunya sangat memprihatinkan bagi kita semua. Seharusnya seorang guru dapat menjadi teladan dan perekat toleransi.

Bukan malah menebarkan bibit-bibit intoleransi kepada murid-muridnya, papar Arfianto Purbolaksono (Anto), Manajer Riset dan Program The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII), dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (30/10/2020).

Anto menyatakan, perbuatan oknum guru ini menggambarkan bahwa persoalan intoleransi telah mencapai titik yang kritis. Bahkan jika kita lihat beberapa hasil survei maupun studi terkait intoleransi, maka dapat dikatakan persoalan intoleransi telah mewabah di dunia pendidikan. Hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan bagi perjalanan bangsa ini kedepannya. Padahal seharusnya sekolah mengajarkan kepada murid-muridnya penghargaan dan penghormatan terhadap sebuah perbedaan.

Melihat kondisi ini, harus ada perhatian serius dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terhadap metode pembelajaran di sekolah. Apalagi jika kita menyimak pidato-pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang acap kali mendengungkan persoalan intoleransi yang masih menjadi ancaman bagi Pancasila dan keutuhan persatuan nasional, papar Anto.

Anto mengatakan, pertama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus segera mengevaluasi sistem pendidikan kita yang masih membuka peluang terjadinya intoleransi di sekolah, baik lewat pengajar, organisasi di sekolah, maupun materi ajar dan referensi bacaan yang digunakan.

Kedua, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu mendorong pengarusutamaan pendidikan multikultural dalam kurikulum pendidikan nasional. Kementerian dapt berkolaborasi dengan beragam pihak yang peduli dan berkegiatan pada isu yang sama.

Mengajarkan nilai-nilai penghargaan dan penghormatan terhadap keragaman budaya, etnis, suku dan agama sangat penting dilakukan di sekolah baik dari usia dini hingga perguruan tinggi. Tujuannya yaitu untuk menumbuhkan sikap yang menghargai dan menghormati perbedaan.

Baca juga :   7 khasiat air ketumbar

Hal inilah yang sangat penting untuk tersampaikan dan terinternalisasi kepada generasi muda kita saat ini, tukas Anto.


Arfianto Purbolaksono
Manajer Riset dan Program
The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII)
085814603669