Besi tua
FacebookTwitterEmailGmailWhatsApp

Oleh: Esye Lapimen

Umar Dg Gassing, tak seperti besi tua, lelaki berkulit legam, urat-urat tangannya telihat jelas. Seusai shalat Dhuhur, dia duduk di teras masjid, memandang nanar sekelilingnya.

Kedua tangannya diluruskan ke belakang menopang tubuhnya yang semakin kurus. Dipandanginya langit, terik matahari membuatnya silau. Aku duduk di sampingnya, ingin memasang kembali sepatu seusai shalat. Dia hanya melirikku sambil tersenyum.

“Terkadang kita tidak pernah bersyukur ya? Saat panas, kita selalu berkata ini panas sekali. Saat hujan, kita selalu berkata hujan ini tak ingin berhenti. Padahal semuanya adalah nikmat yang diatur oleh Allah,” katanya sambil memandang langit. Aku paham, kalimat itu adalah petanda ingin memulai perbincangan denganku. Namun tak lekas kusambut, kecuali dengan
senyuman kecil sambil merapikan tali sepatu.

“Aku sudah empat puluh tahun mengelilingi wilayah Ballaparang ini, nak. Aku melihat wilayah berubah dari hari ke hari. Mulanya hanya empat rumah sederhana, lalu menjadi kompleks elit milik orang kaya, seperti saat ini,” lanjutnya kembali.

“Bapak bermukim di sekitar sini?” kumencoba menyambutnya.

“Tidak. Aku tinggal di Tamamaung, Tapi sejak umur 19 tahun, aku telah berkeliling di
sekitaran sini, membeli besi-besi bekas yang hendak dibuang pemiliknya, bersama becak itu, katanya sambil menunjuk sebuah becak tua berisi besi-besi bekas terparkir di seberang jalan, depan masjid.

“Sejak 19 tahun? Umur berapa, bapak sekarang?” tanyaku penasaran.

“Lima puluh sembilan tahun, nak!” jawabnya enteng. “Aku masih seperti dengan apa yang empat puluh tahun lalu. Tidak ada yang berubah kecuali kondisi wilayah ini. Tapi aku syukuri, inilah yang terbaik dari Tuhan,” katanya sambil menghela nafas.

Aku lalu membayangkan Umar kecil yang mendorong becak tua yang ada di seberang jalan itu. Umar kecil gesit yang seharusnya bersekolah, tapi malah bekerja mencari besi tua / bekas.

Membayangkan Umar kecil yang sangat girang ketika anak orang kaya membuang sepeda bekasnya, memakainya bolak balik di gudang peyimpanan besi tua-nya. Juga membayangkan Umar kecil yang tak punya waktu untuk bermain bola bersama sebayanya. Dan, membayangkan betapa galaknya Ayah dan Ibunya yang rela mempekerjakan Umar kecil.

“Bapak bersaudara, berapa orang?” tanyaku lagi.

“Laki-laki, empat. Namanya anak pertama, Abu Bakar. Anak kedua bemama, Usman. Anak ketiga itu perempuan. Nah, Aku anak keempat, Umar. Dan kelima, namanya Ali. Anak terakhir perempuan juga,” katanya.

“Wah… Nama-nama khalifah ini. Jangan-jangan yang anak perempuan, Khadijah dan
Aisyah,” aku mencoba menebak. Dia pun tertawa.

“Bukan. Tapi Khatijah dan Aisah. Hampir mirip,” dia melanjutkan tawa. Dan perbincangannkami semikin akrab.

“Jangan-jangan orang tuanya, seorang Uztads, nih? Doanya atas nama anak, bagus-bagus,” tanyaku memastikan.

“Bukan,” katanya. “Justru bapakku adalah seorang pemabuk, penjudi dan pemain perempuanbpada masanya. Dia hanya pulang ke rumah, jika ingin meniduri ibuku, dan pergi lagi semaunya. Dia pergi tanpa peduli kapan air mani berubah menjadi janin hingga dilahirkan.

Ibukulah yang memberi kami nama, sambil berharap agar anak-anaknya tak seperti
bapaknya,” lanjut Umar.

“Berati, nama-nama itu adalah doa ibu,” aku mencoba mencandainya.

“Bukan juga, ibuku lebih sering menangis ketimbang berdoa,” timpalnya, dan aku terdiam.

“Dan, inilah penyesalanku. Sampai sekarang aku masih sering mendengar ibu menangis, tetapi aku tak dapat menghapus air matanya,” lanjutnya.

Dia lalu bercerita tentang kelakuan bapaknya sejak masih muda. Konon, bapaknya bernama Idris, seorang anak orang kaya baru. Dibelinya apa yang mau dia beli. Foya-foyalah hidupnya. Naas, usaha bapaknya bangkrut, kediaman berubah jadi neraka. Mereka menyalahkan negara yang tidak pro kepada pengusaha.

Idris muda waktu itu, kemudian memilih mencari kesenangan di luar rumah, mencari sesuatu yang dianggapnya mapan.
Bersama sebayanya, hasratnya mengelilingi Indonesia tanpa tujuan sangat kuat. Meski tanpa kendaraan dan tanpa finansial, rupanya hasrat yang kuat itu telah menguatkan kedua kaki mereka dalam melangkah. Ikat pinggang terpaksa dieratkan, sementara saling berbagi dan
menutupi kekurangan adalah modal.

Tapi, kehadirannya dianggap musibah, meski berusaha meminimalisir musibah. Pernah suatu waktu, dia melewati wilayah yang kebanjiran. Idris yang kemudian merubah namanya menjadi Cukel-bersama rekannya, hendak mengevakuasi warga beserta barangnya yang kebanjiran.

Sayang sekali, rombongan mereka dituding ingin memanfaatkan situasi, guna mencuri barang-barang milik korban ba Mereka digebukin warga, kepalanya dicelup-celupkan ke dalam genangan banjir.

Mereka kelelepan, orang-orang tak peduli. Pernah juga, dia memasuki wilayah perkotaan pada malam hari. Mereka melepas lelah ditrotoar sambil berbaring.

Seorang diantaranya lalu melihat perempuan dicopet. Berteriaklah perempuan itu dan pencopet berlari ke arahnya. Mereka kaget, warga menyerbu, pencopetnya kabur, mereka dituding sekongkol. Seorang rekannya tewas dimassa warga yang beringas.

Media memberitakan pencopet dihakimi massa. Mereka diamankan polisi dengan tuduhan menggangu keamanan. Meski tak dihukum melalui pengadilan, mereka tak juga gembira.

Bagi mereka, hukum sama sekali tak memberikan keadilan buat mereka. Setelah pemakaman rekannya, Cukel dan rekannya sepakat untuk tak bersama lagi. Dipilihnya untuk kembali ke rumah masing-masing. Cukel yang kembali tak lagi melihat keluarganya di rumah. Orang tak dikenal telah membelinya setahun yang lalu, katanya.

Dia menggelandang tanpa rumah, tanpa keluarga, dan lagi-lagi tanpa tujuan. Seorang lalu berbaik hati, mantan penjudi yang insyaf lalu membuat rumah penghapus Tatto, mengizinkan Cukel mendiami rumah kosong miliknya yang tepat berhadapan dengan masjid.

Disitulah dia melihat Fatimah, perempuan yang rajin shalat di Masjid. Hati Cukel kepincut, namun apa daya dia pengangguran dan cuma numpang tempat tinggal. Dimintanya pemilik rumah yang telah berbaik hati, untuk mencarikannya pekerjaan. Berhasil, Cukel pun bekerja
sebagai sopir perusahaan. Dalam pekerjaan, dia tekun.

Baca juga :   Berikut Nasehat-Nasehat Mulia Rasulullah

Keinginnya mempersunting Fatimah membuatnya rajin beribadah. Rajin pula dia berdoa agar segala usaha dan jerih payahnya membuahkan hasil dan bernilai ibadah, tentunya doa agar dijodohkan dengan Fatimah. Tiga bulan dia bekerja, Fatimah malah dilamar dan menikah dengan lelaki yang lebih baik dan mapan darinya.

Seharusnya tindakan Cukel selama ini, tidaklah sia-sia. Tapi sebaliknya. Batinnya berkecamuk, dikecamnya penguasa Jiwa dan Ruh Manusia. Baginya, Tuhan semakin tak berpihak padanya. Doanya putus asa datang Jalan sunyi kembali dia pilih.

Tabungannya yang dikumpul selama ini, dikuras habis. Dibelikannya minuman sampai mabuk, dipasangnya togel dengan nomor seajaib-ajaibnya.

Keberuntungan pemula membawanya menang banyak. Semakin menjadi-jadilah dia, perempuan-perempuan dunia malam digilirnya satu per satu, meski berharap Fatimah segera menjanda.

Dunia malam membuatnya makin kelam. Uangnya makin banyak, semenjak dia memutuskan menjadi mucikari. Dirinya yakin bahwa dia sudah mencapai puncak kejayaan, inginnya segera menikah dengan perempuan baik-baik yang dapat merawat keturunannya.

Dilamarnya Aminah, perempuan sederhana namun Ibunya mata duitan. Anaknya cantik dan kalem.

Aminah menolak, tapi Ibunya menerima dengan kelimpangan harta. Ayahnya sakit-sakitan tak dapat menveto keputusan itu, manut saja dengan keputusan istrinya.

Setelah dipersunting Aminah dibangunkan rumah di daerah Takalar dan hanya dikunjungi ketika Cukel butuh pelukan.

Bagi Aminah, menjaga kehormatan suami adalah tugas istri, diceritakanlah kepada tetangga bahwa suaminya adalah pengusaha besar di Makassar hingga kerap tak punya waktu untuk keluarga.

Tetangga percaya, melihat kebahagiaan Aminah dengan rumah mewah. Aminah tak bahagia, tangisan malam di atas sajadah adalah buktinya.

“Aku sering melihat itu, nak! Ibuku hanya menangis, dia tidak berdoa. Lidahnya keluh dan hanya bergetar ketika menyebut nama kami, nama anak-anaknya,” katanya.

“Ibu masih hidup?” tanyaku.

“Masih dan aku masih menyesal,” jawabnya dengan mata berkaca-kaca.

“Penyesalan apa yang ada pada Ibu yang masih hidup?” aku penasaran.

Umar terlihat mengusap matanya yang berkaca-kaca. Diceritakannya dirinya kabur dari rumah sejak melihat Ibunya tak berhenti menangis. Dipilihnya untuk mencari bapaknya ke Makassar. Sambil membeli besi – besi tua dan bekas, Umar menyelidiki raut muka semua lelaki.

Berharap bapaknya ketemu, tapi tak juga menemukannya hingga kabar kematian datang padanya.

Setelah itu, dia memutuskan untuk tidak kembali lagi ke kampung halamannya. Dia melanjutkan pekerjaanya membeli besi tua, hingga menjadi tua. Soal ibunya, Umar sangat ingin merawat ibunya pada sisa umurnya, namun saudaranya menolak.

Alasannya, Umar dianggap tidak berhak atas semua itu, lantaran telah kabur dari rumah meski tahu kesediaan ibu yang kehilangan anak.

“Saudara-saudaraku melarang. Aku seperti anak yang dibuang oleh keluarga, padahal aku hanya ingin menyatukan yang terpisah.
Aku tidak punya ruang lagi bersama mereka, padahal aku hanya ingin membangun ruang bersama itu, sejak dulu,” katanya sambil terisak.

Aku menarik nafas panjang sambil menepuk pundaknya. Raut mukanya tampak sekali sedang menyembunyikan kesedihan. Aku mencoba memastikan dia dalam keadaan baik-baik saja sebelum beranjak.

“Tidak ada yang paling pedih dari seorang anak, jika orang tuanya masih hidup tapi tidak dapat merawatnya,” katanya lirih. Kalimatnya mengetuk gendang telingaku.

Mendebarkan dadaku. Aku perih. Remuk seperti besi tua.

“Butuh kesabaran, pak,” kataku.

“Jelaskan padaku, nak! Bentuk kesabaran apa lagi, yang belum kulewati?” ucapnya dengan pandangan tajam.

Sedetik senyumnya menyungging. “Kesyukuranku, bahwa Aku masih memiliki becak besi tua,” sambungnya sambil menatap becak tua yang dipenuhi besi-besi.

Baca juga :   Perempuan yang Menemaniku Hingga Sepertiga Malam