Surat Pecinta Kopi

Oleh: Esye Lapimen

Berat rasanya menemukan satu kata yang tepat untuk mengawali surat untuk para pecinta kopi ini. Terlebih untuk menyusunnya menjadi kalimat. Aku membutuhkan waktu berjam-jam untuk merasakan apa hebatnya kalimat yang telah tersusun. Aku sangat tidak ingin bertarik simpul, kecuali engkau ingin menutup simpul.

Oh iya, bagaimana kabarmu? Mudah-mudahan, engkau baik-baik saja. Pun aku, saat menuliskan surat ini.

Bagaimana tidak? Bubuk kopi kirimanmu tempo hari telah kuseduh. Nikmat rasanya. Aku ingin bertanya, dari mana engkau membelinya? Jika ada kesempatan kirimi aku lagi ya…

Tenang, uangnya akan aku transfer. Nomor rekening kalian berapa?

Kawanku, pecinta kopi yang budiman. Mudah-mudahan

kedatangan suratku ini, tidak mengganggu aktivitasmu. Sebab, aku hanya ingin berceloteh sepanjang kertas. Tentang kopi, kesukaanmu, dan tentang dangdut, kesukaanku.

Aku tahu, membacanya pasti akan buang-buang waktu, apalagi dengan tipemu yang sibuk, utamanya dalam berpikir. Aku kira, tidurpun engkau berpikir.

Baru-baru ini, di dekat rumahku, berdiri sebuah warung kopi. Pelayannya cantik. Beberapa kali aku meliriknya diam-diam. Bila hampir terlihat, aku berpura-pura melantunkan potongan dangdut, lalu menyeruput kopi buatannya. Mataku menangkap dia tersenyum.

Kawan, elok kiranya, jika kopi buatannya itu, adalah kopi kirimanmu ini.

Di warung kopi itu juga, aku mendengar banyak orang bercerita tentang benang menjadi kain, tentang beras menjadi nasi, dan tentang pohon menjadi segalanya. Memang, bicara tentang pohon yang punya akar kuat selalu saja mempengaruhi segalanya.

Contohnya, jika engkau, kawanku, pecinta kopi yang budiman punya akar-akaran liar, dan jinak sekalipun, maka engkau akan bisa mengobati segala macam penyakit. Dan, jika engkau punya akar rumput, maka engkau bisa menjadi anggota parlemen.

Kawanku, pecinta kopi yang budiman. Pasti engkau sudah punya Akar. Sebab, orang yang suka kopi, tentulah pandai berbicara dan punya perkumpulan di warung-warung kopi.

Seperti di warung kopi samping rumahku itu. Tiap malam aku melihat, ada sekelompok anak muda yang ngumpul, mereka bercakap-cakap soal akal.

Katanya, akal sangat dibutuhkan dalam kehidupan ini. Katanya pula, dengan meminum kopi, akal dapat dipancing untuk cerdas. Cuma dipancing, sebab kalau dari sononya memang tidak cerdas. Apalah daya. Aku dengar juga dia berkata, orang yang berakal adalah orang yang cinta perubahan, cinta perubahan berarti dia kreatif, dan jika dia kreatif, maka dia suka minum kopi.

Kawanku, pecinta kopi yang budiman. Dari warkop dekat rumahku itu. Aku juga sering menonton televisi. Suatu hari, sambil menyeruput kopi, tiba-tiba seorang datang. Badannya kekar, perutnya buncit, memakai setelan serba putih dan berdasi. yang paling penting, dia menjabat tangan semua orang seisi warkop, termasuk aku.

Aku kagum padanya. Aku curiga dia sementara mencari akar rumput. Kuliat dia duduk di meja paling dalam, jauh dariku. Dia pesan kopi. Karenanya, Aku simpulkan dia berakal.

Aku betul-betul takjub padanya, hingga dia pulang. Tetapi, tiga hari kemudian, saat situasi yang sama. Menyeruput kopi dan menonton televisi, aku melihatnya dia ditangkap. Di televisi itu aku tahu, dia telah mengambil hak orang lain.

Kawanku, ingin aku katakan, Akar dan Akal memang mudah. Dan, Ahklaklah sangatlah sulit. Maka itu, kukirimkan surat ini.

Aku ingin kabarkan, jika engkau ingin belajar akhlak, dengarkanlah lagu dangdut. Mudah-mudahan engkau setuju denganku kali ini.

Lagu dangdut, punya akar rumput, maka wajarlah raja dangdut ingin jadi presiden. Bagaimana dengan raja kopi? Lagu dangdut sangat kreatif, jika demikian tentulah pembuatnya punya akal. Dan, lagu dangdut selalu berkelahi soal akhlak, tentulah punya konsep soal ahklak yang baik.

Sekian dulu surat untuk para pecinta kopi ini. Jika ada waktu, kita tukaran kopi dan lagu dangdut, sambil menikmati dendangan irama kopi dangdut

Baca juga :   Pemerintah Segera Tata Ulang Regulasi Nasional dan Ratifikasi ILO 188