putu cangkir
FacebookTwitterEmailGmailWhatsApp

Komitmen, Makassar – Keragaman serbuan camilan moderen melanda Indonesia, bagi segelintir orang jenis kue-kue tradisional di Makassar masih menjadi primadona tersendiri, salah satu kue tradisional yang mulai tergerus zaman itu adalah Putu Cangkiri atau Putu Cangkir dan Putu Ambon.

Bagi yang penasaran ingin mencoba legitnya Putu Cangkir tak perlu bingung mencarinya, penjaja Putu Cangkir umumnya menjajakannya di pinggir jalan.

Warga sekitar Sudiang bisa mendapati penjaja kue ini di sudut Jalan Goa Ria Sudiang arah Asrama Haji Sudiang atau di sekitar pasar tradisional terdekat tempat tinggal kita.

Penamaan cangkiri’ ini karena bentuk kue ini memang mirip cangkir terbalik. Jika dilihat dari suku katanya, Putu Cangkiri’ ini terdiri atas dua suku kata, yakni, Putu; panganan dari beras ketan dan Cangkiri’ yang berarti “cangkir”.

Jadi kue  ini adalah panganan dari ketan yang bentuknya menyerupai bagian bawah cangkir jika posisinya diletakkan terbalik. 

Putu Cangkir biasanya dibuat dengan dua varian rasa, yaitu manis dengan gula merah dan gula putih.

Rahmawati salah satu penjual putu cangkir di Makassar, bisa ditemui di sudut Jalan Goa Ria Raya Sudiang, lebih tepatnya di emperan toserba Kalmit arah Asrama Haji Sudiang. Minggu (8/11/2020) pagi.

Menurutnya sudah puluhan tahun berjualan kue ini dan kue tradisional Bugis Makassar. “Saya jualan kue ini, putu tongka, putu ambon sejak kecil sudah turun temurun dari nenek,” sebut Rahmawati.

Penjualnya mengakui peminat kue tradisional jenis putu cangkir dan putu Ambon ini cukup banyak. Buktinya, di hari-hari biasa di luar dan di tengah wabah pandemi Covid-19, putu cangkirnya laris manis.

“Bahan dasar penganan ini adalah beras ketan, baik ketan putih maupun ketan hitam. Ditumbuk tapi tidak sampai halus. Lalu ditambahkan serutan gula merah yang diremas bersama agar ketan gula merahnya menyatu,” kata Rahmawati kepada media.

Selanjutnya dijelaskan, untuk putu ambon terbuat dari beras dicampur ketan, dikasih kelapa, gula merah tengahnya. Sementara bahan putu ini ketan campur gula merah ini kemudian dimasukkan di tengahnya disisipkan parutan kelapa. Kemudian dikukus.

Rahmawati mengaku, sebelum Covid-19 dari hasil jualan kue buatan sendiri untungnya lumayan, dengan waktu jualan mulai pukul 06.30 WITA setelah habis sejenak beristirahat kemudian pukul 17.00 WITA sore berjualan lagi.

Selama menjual, Rahmawat dalam sehari mendapatkan keuntungan Rp 250 ribu. Selama Corona ini keuntungan menurun, tapi tetap di syukuri saja,” tutur ibu lima anak warga Sudiang, Kecamatan Biringkanaya ini.

Rahmawati ditemani seorang anaknya untuk jualan kue, menuturkan bahwa tempat tinggalnya pemberian dari orang tua sedangkan lokasi jualan ngontrak.

Baca juga :   Pesonna Makassar Sudah Salurkan 320 Iftar Box dari Donatur

“Kue putu Cangkir dan Putu Ambon, murah kok hanya dijual dengan kisaran harga seribu rupiah saja,” sebut Rahmawati.

Nah bagi anak-anak milenial yang mulai bosan dengan cemilan moderen atau es ataupun gorengan, kue Putu ambon dan putu cangkir ini bisa jadi alternatif yang menyehatkan.