Obat Halal
FacebookTwitterEmailGmailWhatsApp

KomitmenSegala penyakit pasti ada obatnya, kecuali penuaan dan kematian, maka berobatlah menggunakan cara yang halal, bukan dengan sesuatu yang haram. Atau malas berobat.

Jaman sekarang biaya pengobatan memang melambung jauh terbang tinggi seperti mimpi jika ingin sembuh, yang membuat malas bukan karena tidak ada biaya, tapi karena terkendala biaya.

Jaminan kesehatan pun para nasabah harus iuran duluan. Bahkan untuk saat ini susu formula untuk bayipun rasanya sudah tak terbeli, apatah lagi di tengah wabah pandemi.

Toh demikian tetaplah jaga kesehatan, jangan sampai anda dipaksa membeli oksigen yang seharusnya Gratis dari Allah SWT.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram” (HR. Thabrani). ”Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kalian dalam sesuatu yang diharamkan-Nya” (HR. Bukhari).

“Dan ingatlah kisah Ayyub, ketika dia menyeru Rabb-nya, ’Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang’. Maka Kami pun memperkenankan doanya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya. Dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah” (QS. Al-Anbiya’: 83).

Hadits: “Barangsiapa melakukan suatu amalan kebaikan, lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan, lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (HR. Muslim)

Baca juga :   Orang Sombong dan Bakhil Adalah Penduduk Neraka

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang–orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah. dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”” (QS. Yusuf: 108).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi berdo’a,

اللّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ

“Allahummah-diinii li-ahsanil akhlaaqi, laa yahdi li-ahsaniha illa anta (Ya Allah, tunjukilah padaku akhlaq yang baik. Tidak ada yang dapat menunjuki pada baiknya akhlaq, kecuali Engkau)” (HR. Muslim). Beliau bersabda, “Orang mukmin yang sempurna imannya adalah yang baik akhlaqnya.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan Ad Darimi). Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan yang tempat duduknya lebih dekat kepadaku pada hari kiamat ialah orang yang bagus akhlaqnya.” (HR. Tirmidzi)

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa pada pagi hari berdzikir: Allahumma maa ashbaha bii min ni’matin au biahadin min khalqika faminka wahdaka laa syariikalaka falakal hamdu wa lakasy syukru (Ya Allah, atas nikmat yang Engkau berikan kepada ku hari ini atau yang Engkau berikan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, maka sungguh nikmat itu hanya dari-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu. Segala pujian dan ucap syukur hanya untuk-Mu), maka ia telah memenuhi harinya dengan rasa syukur. Dan barangsiapa yang mengucapkannya pada sore hari, ia telah memenuhi malamnya dengan rasa syukur” (HR. Abu Daud).

Baca juga :   Jika Allah Menghendaki Kebaikan Bagi Hambanya

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, dan Kami perintahkan kepadanya, “Bersyukurlah kepada Allah”. Dan barangsiapa yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Luqman:12).

Hadits: “Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya nikmat-Mu, dari beralihnya keselamatan (yang merupakan anugerah)-Mu; dari datangnya siksa-Mu (bencana) secara mendadak, dan dari semua kemurkaan-Mu”. (HR. Muslim)

“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian)” (QS. Asy-Syuuraa: 30). “Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya” (QS. Fushshilat:46).