FacebookTwitterEmailGmailWhatsApp

Tak banyak kisah persahabatan anak manusia yang dicatat dengan tinta emas dalam Al-Qur’an. Satu di antara kisah yang paling mengesankan adalah persahabatan antara Nabi Muhammad dan Abu Bakar as-Siddiq. Saksi persahabatan antara dua anak manusia ini adalah Allah. Bahkan, Allah pula yang menyematkan kata “sahabat” bagi mereka berdua. Mungkin kita bisa sedikit menyimak surah at-Taubah ayat 40 di bawah ini:

Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya.. (QS. at-Taubah: 40).

Baca juga :   Resensi Buku Reformasi Pengelolaan Sumber Daya Air

Jika merujuk pada ayat 40 dalam QS at-Taubah, kita bisa melihat  bagaimana sikap seorang sahabat baik yang terus membesarkan hatinya dengan memintanya agar tak lagi bersedih. Mengapa perlu bersedih? Jika Allah masih menyertai kita. begitulah kira-kira potretan indah persahabatan Rasulullah dan sahabat terbaiknya, Abu Bakar as Siddiq. Adakah rujukan yang lebih indah daripada persahabatan yang berlandasakan ridha Allah?

Dengan demikian, isyarat persahabatan yang baik itu jelas ukurannya. Seperti Nabi dengan Abu Bakar, persahabatan terbaik adalah yang saling menggembirakan. Memberi kabar gembira, bukan semata karena persahabatan itu adalah mitsaq yang akan menyelamatkan di dunia hingga akhirat, tetapi lebih dari itu, karena persahabatan direstui, diridhai, dan bersamaan dengan taufik Allah.

Baca juga :   Antisipasi Penyebaran Covid-19, IKA F-MIPA UIM Lakukan Penyemprotan Disinfektan