Proyek Embun Wora Dinilai Rugikan Petani
FacebookTwitterEmailGmailWhatsApp

Komitmen, Wora – Dinilai Bertindak sewenang-wenang pihak pelaksana Proyek Rehab Embun Desa Wora Kecamatan Wera Kabupaten Bima telah merugikan para petani sebagai pengguna air tampungan dari Embun tersebut. Jumat (20/08/2021)

Dari informasi masyarakat bahwa Embun tersebut tidak memilki mata air murni, hanya menampung air hujan selama musim hujan berlangsung, dan air teresebut ditampung sampai musim hujan berikutnya.

Para petani area embun tersebut selepas musim hujan hanya mengandalkan dan  memanfaatkan air tampungan untuk dipergunakan dalam urusan pertanian mengingat hanya itu satu-satunya sumber air untuk pertanian.

Dan saat ini kondisi usaha pertanian masyarakat, baik padi, kacang maupun jagung masih membutuhkan air tersebut agar bisa dipanen beberapa Minggu kemudian.

Akan tetapi para petani terancam gagal panen karena ketidak tersambungnya kebutuhan air dari embun tersebut. Akibat dikuras atau dikeringkan oleh pihak pelaksana proyek penggalian embun tanpa terlebih dahulu bermusyawarah dengan petani setempat.

Tindakan kesewenang-wenangan tersebut menuai kecaman dari masyarakat terutama petani setempat.

Dipastikan para petani akan mengalami kerugian puluhan dan bahkan ratusan juta karena gagal panen yang murni atas ulah pihak pelaksana proyek tersebut.

Baca juga :   Seorang Wanita Pengendali Jaringan Narkotika di Kalbar Dijatuhkan Hukuman Mati

Proses pengeringan tersebut dilakukan pada Senin 16 Agustus 2021 oleh seorang oknum berinisial (is).

Menurut Kepala Desa Wora, A.Kadir belum tahu menahu soal keberadaan proyek penggalian Embun tersebut.

“Kalau untuk rehab pemasangan batu pada dinding embun saya tahu, tapi kalau soal penggalian saya belum dapat informasi dari pihak pelaksana, dan mengenai pengeringan air itu suatu kesalahan karena masih banyak petani yang membutuhkan air itu, kan pekerjaan bisa dilakukan setelah panen petani, kami sebagai pemerintah Desa Wora akan segera tindak lanjuti persoalan ini,” lanjut Kepala Desa Wora.

Menurut Asriadi selaku petani area embun satu kali dilakukan penyiraman tanaman.

“Satu kali lagi tahap penyiraman tanaman kacang baru di panen, tapi karena air sudah tidak ada, kami juga tidak tahu harus berbuat apa, kalau kami cabut kacang tentu tidak bisa dijual karena masih sangat muda, kami juga tidak diinformasikan soal akan dilakukan pengeringan air,” sesal Asriadi petani area embun.

Menurut Salfian selaku pemuda Wora sekaligus aktivis mahasiswa tindakan oknum pelaksana proyek tersebut memiliki beberapa kejanggalan.

Baca juga :   Istri ASN Harus Berkomitmen Menjaga Keluarga

“Sedikitnya ada empat poin kejanggalan dan bisa dijerat hukum. Pertama,  Pelaksanaan proyek yang dimulai dari pengeringan air tanpa terlebih dahulu memberitahu pemerintah setempat. Kedua tidak ada musyawarah dengan para petani area embun untuk mengambil langkah pengeringan air. Ketiga atas tindakan tersebut telah merugikan petani. Poin keempat, melanggar Undang-Undang Keterbukaan informasi, mengingat tidak adanya pemberitahuan akan dilaksanakan pekerjaan proyek, sumber proyek dan anggaran proyek,” tandas Salfian melalui rilis tertulisnya kepada media. Sabtu (21/8/2021).

“Kami selaku generasi muda lebih-lebih pemuda asli Desa Wora akan menindak lanjuti tindakan kesewenang-wenangan tersebut, baik melalui musyawarah untuk mencapai permufakatan atau dengan jalur hukum, intinya akan kami kawal kasus ini,” ungkap dia.

Hingga berita ini tayang belum ada usaha untuk klarifikasi dari pihak pemegang proyek Rehab Embun Wora. (Fhyan).