komitmen.id

Petik Hikmah Menebar Maslahah, Berguru pada Rasulullah

Petik Hikmah

Buku Guru Kehidupan: Memetik Hikmah Menebar Maslahah ini sangat sederhana, namun isinya begitu dahsyat.

Penulisnya Agus Salim sengaja menitip pesan kepada pembacanya memetik hikmah dari setiap peristiwa dan dapat menebar maslahah kepada siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Dengan menebar maslahah bukan masalah loh, semoga menjadi manusia bermakna, demikian tulis Agus Salim.

Sekedar informasi, maslahah adalah mencari manfaat dalam syari’at islam.

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat dan ceritakanlah tentang Bani Israil tanpa perlu takut. Dan barangsiapa berbohong atas namaku dengan sengaja, maka bersiaplah dia mengambil tempatnya di neraka,” (HR. Bukhari, dari Abdullah bin Amr Al-‘Ash)

Sesuai dengan hadis di atas, maka sebagai umatnya kita memiliki tiga kewajiban, yaitu; 1) Menyampaikan walaupun satu ayat; 2) Tidak bersikap sempit atau lapang dada menerima pendapat dari mana saja; 3) dan tidak berdusta, apalagi berdusta mengatasnamakan Rasulullah SAW.

Jika tiga hal itu tidak kita lakukan, maka ancamannya adalah tempat (tempat tinggal) di neraka. Na’udzu billah min dzalik!

Rasulullah SAW, diutus sebagai ‘guru yang memudahkan? (HR. Muslim), maka kita pun memiliki kewajiban untuk meneladani Rasulullah SAW., yaitu: sebagai mu’allim dan mubalig.

Sadarilah, bahwa kita semua adalah guru. Sadarilah bahwa kita bertugas menyampaikan kebaikan, perbaikan dan memudahkan. Oleh karena itu jika kita mengartikan guru hanyalah orang yang berdiri di depan kelas (guru dalam arti sempit) maka kita membelokkan hakikat kemanusiaan kita. Sebab kita menuntut orang lain berbuat baik, sementara kita diam saja.

Renungkanlah firman Allah SWT, yang artinya: “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah:44)

Jika kita mengartikan peran sebagai guru adalah kewajiban kita bersama, maka kita akan berupaya menata peran diri menjadi lebih baik. Ketahuilah, bahwa masing-masing kita pada dasarnya adalah “guru” (dalam arti luas).

Renungkanlah firman Allah Swt., yang artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90).

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa Rasulullah saw.,adalah seorang mubalig yang berkewajiban menyampaikan ayat-ayat Allah. Allah Swt., berfirman, yang artinya: “Wahai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu) berarti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. AL-Maidah: 67)

Terkait dengan QS. Al-Maidah: 67, Imam Bukhari menjelaskan, bahwa Nabi Muhammad saw., menerima wahyu dari langit, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4), la menyimpulkan, bahwa Nabi Muhammad saw., dididik Tuhannya dengan sebaik-baik didikan. Allah yang menancapkan cahaya di hatinya. Mengalirlah kebaikan atas lisannya, Allah juga menjadikan taat kepadanya (Nabi Muhammad) termasuk taat kepada Allah dan maksiat kepadanya termasuk kemaksiatan kepada Allah Swt., sebagaimana QS. An-Nisa’: 80.

Sudah jelas, bahwa Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak melalui peran dan fungsinya sebagai seorang mu’allim dan mubalig. Kita harus berguru kepada Rasulullah saw., dengan menjadi: 1) Pribadi yang memudahkan, bukan menyusahkan; 2) Pribadi yang lapang dada menerima kebenaran; 3) Pribadi yang jujur, jangan menjadi pendusta.

Oleh karena itu milikilah semangat untuk belajar, learning to learn dan petiklah hikmah dari setiap perjalanan hidup kita, sebab pengalaman adalah guru yang paling berharga! Semoga semua yang kita lakukan bisa menjadi guru kehidupan’!.

Jadilah orang yang paling peka dan peduli pada sesama, agar ketika saudara kita mengalami kesulitan, kita bisa menjadi orang pertama menawarkan bantuan padanya.

Para tenaga pendidik jaman sekarang, dibawah ancaman wabah pandemi Covid-19, ada baiknya memiliki buku yang ditulis oleh guru/tanaga pendidik asal Jombang ini.

Semoga kita bisa memetik mutiara-mutiara hikmah nan cantik dari buku ini. Selamat membaca!

Exit mobile version