Perkawinan (pixabay)
FacebookTwitterEmailGmailWhatsApp

Komitmen – Membahas masalah perkawinan di kehidupan manusia berarti mengemukakan suatu masalah yang sangat luas. Dikatakan luas karena menyangkut kehidupan dan perkembangan umat manusia dimuka bumi.
Dalam ilmu antropologi perkawinan unsur kebudayaan yang universal. Agama memberikan wadah, adatpun memberikan tempat.

Perkawianan mempunyai arti yang sangat penting dan bukan hanya sekedar untuk memenuhi hasrat seksual. Perkawinan adalah salah satu cara untuk melanjutkan keturunan dengan dasar cinta kasih untuk melanjutkan hubungan yang erat antara keluarga yang lain antara suku yang lain bahkan antar bangsa dengan bangsa yang lain. Hubungan perkawinan itu merupakan satu jalinan pertalian yang seteguh-teguhnya dalam hidup dan kehidupan manusia.

Menelaah uraian tersebut, ungkapan orang Makassar mengatakan, tenapa nagannase’re tau punna tenapanasi tutuk ulunna salangganna (seseorang belum sempurna jikalau kepalanya belum berhubungan dengan bahunya).

Pengertian dan ucapan ini adalah bahwa manusia baru dapat dikatakan manusia sempurna yang dalam bahasa Makassar disebut tau bila ia kawin.

Seseorang yang belum kawin diumpamakan mempunyai tubuh yang belum lengkap karena kepala dan selangkanya (tubuhnya) dianggap belum berhubungan suami dan istri dipersamakan sebagai kepala dan badan yang harus dibubungkan untuk menjadi manusia yang sempurna. Suami dan istri merupakan pelengkap utama antara satu dengan yang lainnya.

Tidaklah heran apabila seorang-orang tua apabila ia mengabarkan akan mengawinkan anaknya, baik putra maupun putri maka ia akan mengatakan “Lanipajjari taumi” atau Lanipatutukmi ulanna salangganna. Lanipatutukmi ulunna salangganna dimaksudkan akan dihubungkanlah kepala dan selangkanya, sebab menurut anggapan seseorang, anak jejaka ataupun gadis sebelum kawin belum dapat dikatakan ia sebagai manusia (tau).

Ia belum punya hak untuk duduk ataupun berbicara pada acara-acara tertentu. Oleh sebab itu tanggung jawab seseorang sesudah ia kawin
akan bertambah.

Demikian pula bila seseorang orang tua mengawinkan anaknya nisungkeammi bongonna artinya selubungnya sudah dibuka oleh anaknya.

Sebab orang tua yang mempunyai anak yang belum kawin seolah-olah ia berselubung, menutupi sesuatu yang dijaga (kehormatan) dan dikhawatirkan. Oleh sebab itu setiap orang tua dalam mengawinkan anaknya berusaha melaksanakan semeriah mungkin sebagai manifestasi daripada kegembiraannya terhadap anaknya. Selanjutnya seorang-orang tua dalam mencari jodoh untuk anaknya tidaklah mudah, karena mengawinkan anak berarti menghubungkan atau mempertautkan dua keluarga menjadi satu sebab itu memerlukan berbagai pertimbangan.

Hubungan perkawinan itu menyebabkan kedua keluarga terikat oleh suatu ikatan yang disebut ajjulu sirik yang maksudnya kedua keluarga bersatu dalam mendukung kehormatan keluarga.

Orang yang tidak berketurunan disebut tau pupusuk artinya orang tidak berkembang biak dan termasuk orang sial. Terhadap seseorang yang
banyak anak dikatakan kalumannyangmako kajaimi anaknu artinya engkau sudah kaya karena anakmu sudah banyak, anak itu adalah
pembawa rezeki.

Perkawinan dengan segala proses pelaksanaannya dalam
masyarakat adalah menjadi masalah seluruh keluarga. Oleh sebab itu seseorang yang akan memilih jodoh atau orang tua yang memilih calon pasangan bagi anaknya sewajarnyalah mempertimbangakan semasak-
masaknya tentang keadaan anak yang akan menjadi pasangan anaknya, agar keluarga baru yang akan terbentuk menciptakan suatu kehidupan keluarga bahagia.

Pembatasan jodoh dalam artian ini dapat disebabkan karena berada dalam hubungan tenanasiratang, maksudnya tidak sepadan dalam kedudukan sejajar, akan tetapi prinsip ini sudah berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat, oleh sebab pembatasan jodoh yang sesungguhnya dimaksudkan ialah hubungan perkawinan tidak wajar dalam istilah anthropologi salimarak, dikenal incest atau sumbang ialah larangan perkawinan antara, Ibu kandung, Bapak kandung, Ibu dari ibu kandung (nenek), Bapak dari bapak kandung (kakek), Anak-anak laki-laki atau perempuan. Saudara-saudara baik lelaki atau perempuan, Saudara dari Ibu, Anak sauddara, Cucu saudara, Ibu tiri, Bapak tiri, Mertua (dari istri dari saudara), Menantu (suami atau istri dari anak).

Baca juga :   YPP-Sulsel Kembali Gratiskan Biaya SPP Bagi Mahasiswa Baru 2019