Perempuan (Foto: pixabay)

KomitmenPerempuan yang menemaniku hingga sepertiga malam. “Untuk sementara cukup senyumannya. Wanita yang menemaniku hingga sepertiga malam telah diutus Tuhanku untuk menemani lelaki hingga ujung malam.”

Bila Cleopatra memakai kacamata, akankah ia secantik kau? Semanis kau? Jika demikian aku akan belajar kata-kata romantis menggombalnya.

Ia begitu istimewa, tetapi sulit untuk ditebak. Tiap bertemu dengannya, ia selalu melempar senyum, aku pun menangkapnya dan memberinya serupa.

Saat aku mulai merangkai kata ia terkadang cemberut, katanya gombal.

Betulkah? Terakhir aku tahu, ia tidak suka gombal. Tapi satu hal, ia suka kejutan.

“Cerpen ini, untukmu Dinda, kubuat khusus untukmu.

Bacalah!” kataku padanya di suatu siang di kantin kampus.

“Wow, buat aku?” katanya dengan girang sambil mengotak atik halaman demi halaman.

Dan, aku mengangguk, aku senang ia riang. “I Like it,” sambungnya sembari menatapku sekilas, memasukkan benda itu ke dalam tasnya lalu berlalu.

“Ei… mau ke mana?” kalimatku luruh melihatnya beranjak.

Dia hanya tersenyum tanpa membalas kata. “Sebentar malam, SMS aku ya… kalau sudah dibaca,” lanjutku.

“Kakak saja yang SMS. Pasti aku balas,” timpalnya.

Menurutku dia perempuan anggun. Namanya, Marita.

“Di kampus tadi kok langsung pergi? Kemana?” pesan singkat melayang ke telepon genggamnya.

Mudah-mudahan saja dia membalas dengan cepat, agar tidak menitipkan resah pada rasaku.

Namun, tiga puluh tujuh menit berlalu, balasannya belum kunjung.

Dan, Aku menunggu namun gundah datang menitip resah.

Maaf, aku tidak menerima titipan resah!

Kuambil secarik kertas, mengelar kesan cuek akan titipannya dan menulis beberapa bait puisi, lekas kata, kalimat, narasi kukemas manis untuknya.

Berharap bisa menjadikannya kejutan, saat pertemuan berikut.

Sebab, sekali lagi, ia suka dengan kejutan.

Jika saja, kejutan ini berhasil, harapan selanjutnya adalah ia sadar ataupun tidak terpikat olehku, lalu mendengarkan celotehanku termasuk gombalanku.

Mudah-mudahan.

“Maaf baru balas, tadi dosenku masuk,” pesan singkatnya datang.

Gundah pergi membawa serta resah.

Sayangnya, ia turut membawa pergi imajinasi yang akan kutuliskan pada bait-bait puisi.

Tak perlu, biar kucari besok. Berbalas pesan berlanjut hingga sepertiga malam.

Berbagai tema, saling berkaitan tanpa kesimpulan.

Dan, ditutp dengan kalimat “Jangan lupa shalat witir sebelum tidur.”

Kukusut masai rambutku, sambil membaca pesan terakhir berulang-ulang.

Dia bukan hanya anggun, tetapi mampu menjadi api unggun, elok dilihat, menhangatkan rasa, semangatnya besar.

Pagi. Di kampus aku hendak menemuinya namun hanya melempar senyum, tanpa kata.

Aku makin penasaran, tapi tak elok kiranya jika aku memburu langkahnya.

Aku menunggunya di tepi jejaknya.

Namun, kampus mulai sepi, dia belum juga memunculkan sebaris senyum untuk sebait puisiku malam nanti.

Aku harus memutuskan pulang, resah menjemputku.

Ia menawarkan rindu. Aku menolak, sebab aku bukan pedagang rindu yang pandai tawar menawar.

Malam tiba kami kembali berkirim pesan; menanyakan soal kemunculannya yang sekadar, lalu hilang tanpa kadar.

Ia begitu setia menemaniku dalam hal ini hingga sepertiga malam.

Dan, selalu saja pesan ditutup dengan kalimat, “Jangan lupa shalat witir sebelum tidur.”

Malam berganti malam, pesan berganti pesan. Rasa terpaut rasa.

Dan, akhirnya aku terpaksa menebus rindu dan resah selalu saja tersenyum.

Jika kuhitung, sejak perkenalanku, kurang lebih tujuh bulan ia telahmenemaniku hingga sepertiga malam.

Aku rasa ia cukup setia akan hal ini. Apakah dia sengaja diutus oleh Tuhan untuk mengingatkanku?

Tapi mengapa Cuma shalat witir, bukan shalat lima waktu?

Anehnya, selama kurang lebih tujuh bulan itu.

Aku jarang bercakap, baik di kampus, di halte, di bus, di persimpangan jalan, di trotoar, di tikungan rasa, kecuali dengan melempar senyum.

Sekali lagi, tanpa suara.

Tiba-tiba saja tanpa sebab, suatu malam ia tidak menemaniku hingga sepertiga malam lagi.

Pesan singkatku tidak ia balas. Di kampus aku pun tidak pernah menemukan lemparan senyumnya lagi.

Aku pun tidak tahu ia kemana? Apakah ia sakit? Ingin kujenguk namun mengetahui letak rumahnya.

Kuakui, terlalu sedikit hal tentang dirinya yang telah kuketahui.

Besoknya aku berusaha mencarinya di kampus.

Nihil. Beribu tanya kupendam. Wanita yang menemaniku hingga sepertiga malam telah tiada.

Sebulan telah berlalu, dia belum juga nampak. Aku malu bertanya kepada temannya.

Sepergiannya, aku berteman dengan kertas dan ballpoint.

Sudah cukup tujuh judul cerpen yang telah aku tulis untuknya.

Dan lima puluh judul puisi untuknya.

Dengan harapan, saat ia muncul, aku akan memberinya sebagai kejutan.

Berharap lemparan senyumnya lalu kembali setia menemaniku hingga sepertiga malam.

Dia tidak muncul lagi, sudah hampir dua bulan.

Resah kembali dating menawarkan rindu yang lebih mahal.

Tetapi kutawar dengan pertanyan; mengapa tiba-tiba ia menghilang seperti ditelan waktu?

Kebimbangan dan keresahan semakin bergelayut.

Ku mencoba lagi menghubungi nomor teleponnya.

Akan kupastikan dia baik-baik saja. Ternyata, nomornya tersambung.

Satu, dua, tiga hingga tujuh aku memanggil, akhirnya seseorang menjawabnya.

“Hallo” Terdengar suara laki-laki dari sana
“Ada marita?” tanyaku.

“Oh iya, dia lagi diluar. Ini dengan siapa?” Tanyanya.

“Aku temannya. Kalau yang di seberang?” tanyaku agak kikuk.

“Aku suaminya, dua minggu lalu kami telah menikah” jawabnya.

“Oh… iya… Aku menggangu mungkin. Titip salam saja sama dia. Bilang dari Ichal, teman kampusnya,” jawabku.

Tut…tut…tut telpon terputus.

Sesal turut campur. Rasanya tak mampu aku menerima kenyataan, jika wanita yang menemaniku hingga sepertiga malam, kini telah menemani lelaki hingga di ujung malam.

“Mengapa aku menelpon?” sesal telah kuberi murah dari hasil penjualan rindu.

Telepon genggamku kembali berdering. Aku perhatikan nomor interlokal yang masuk.

Rasanya ini kode Jakarta.

“Ini dengan bapak Sukrizal?” tanyanya dari seberang.

“Iya betul, ada apa?” tanyaku

“Kami dari pihak penerbitan, naskah cerpen dan puisi bapak layak terbit. Minggu ini kami akan mulai proses editing. Penerbitan kami akan menerbitkannya” jawabanya.

“Maaf pak, cerpen dan puisi yang mana?” tanyaku heran.

Baca juga :   Filosofi Tokoh Pewayangan Punakawan: Semar

Penulis: Lapimen