Indriani Bahar

KomitmenPenyuluh Keluarga Berencana mengingatkan pentingnya pendewasaan usia pernikahan.

Menanggapi adanya praktik promosi pernikahan anak secara masif dimedia sosial yang dilakukan oleh wedding organizer (WO) Aisha Weddings , tentunya sangat meresahkan bagi pemerintah khususnya bagi pihak yang selama ini telah berupaya melakukan edukasi untuk pencegahan terhadap pernikahan anak dan semua LSM yang yang aktif pada isu perlindungan anak.

Apa yang dipromosikan oleh WO Aisyah Wedding tentunya bertentangan dengan UU Perlindungan anak dan berbagai kampanye yang dilakukan pemerintah yakni Undang-Undang 16 tahun 2019 tentang Perkawinan bahwa syarat usia menikah minimal 19 tahun dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Adanya iklan tersebut kembali membuka mata kita semua, bahwa angka pernikahan anak di Indonesia masih terbilang tinggi, berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2018 BPS tercatat angka perkawinan anak di Indonesia yaitu mencapai 1,2 juta kejadian.

Dari jumlah tersebut proporsi perempuan umur 20-24 tahun yang berstatus kawin sebelum umur 18 tahun adalah 11,21% dari total jumlah anak, artinya sekitar 1 dari 9 perempuan usia 20-24 tahun menikah saat usia anak. Pemerintah sendiri menargetkan untuk menurunkan angka perkawinan dari 11,21% menjadi 8,74% di tahun 2024.

BKKBN sendiri berupaya membantu pemerintah untuk menurunkan angka perkawinan anak melalui program Genre, salah satunya edukasi Pendewasaan Usia Perkawinan, yaitu upaya meningkatkan usia perkawinan pertama, sehingga mencapai usia minimal saat perkawinan yaitu 21 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria. Karena usia tersebut secara biologis dan psikologis sudah matang untuk berumah tangga.

Sebagai Penyuluh Keluarga Berencana, ujung tombak di lini lapangan tentunya kita akan bersama-sama berupaya untuk mencegah pernikahan dini.

Selama ini kami telah menyasar sekolah, perguruan tinggi dan masyarakat melalui program PIK Remaja untuk mengedukasi Remaja terkait pentingnya Pendewasaan Usia Perkawinan dan Penyiapan kehidupan Berkeluarga bagi remaja dan melalui kegiatan Bina Keluarga Remaja (BKR) di kelurahan/desa binaan memberikan penguatan peran orang tua atau keluarga yang memiliki remaja dalam pengasuhan kepada anak remajanya.

Penyuluhan ini dilakukan baik melalui pertemuan langsung, virtual, atau membagikan informasi ke platform media sosial yang kami miliki.(* )

Oleh: Indriani Bahar, SKM.,M. Kes (Penyuluh KB Kota Makassar)

Baca juga :   Peringatan Hari Lahirnya Pancasila di Tengah Pandemi Covid-19