Pemuda Bima
FacebookTwitterEmailGmailWhatsApp

KomitmenPemuda Bima yang tergabung dalam Ksatria Muda Indonesia mengecam keras oknum guru yang mendoakan atau menyumpahi muridnya mati, mampus melalui pesan berantai WhatsApp mendadak viral. Atas sumpah serapah terhadap muridnya yang mengalami kecelakaan mendapat kecaman keras dari Ksatria Muda Indonesia (KMI) Bima.

Oknum guru honorer yang mengajar di SMAN 1 Wera, Kecamatan Wera Kabupaten Bima, mendoakan muridnya meninggal dunia. Diketahui sumpah serapah ini dilontarkan melalui chatingan WA dengan kawannya.

Entah apa yang mendasari kemarahan oknum guru tersebut kepada muridnya, yang sampai saat ini masih ditelusuri oleh Ksatria Muda Indonesia Bima.

Kabarnya, chatingan itu bermula dari kecelakaan lalulintas seorang siswa yang tengah konvoi kelulusan bersama teman-teman sekolahnya pada hari Selasa, 06 April 2021, Siswa tersebut kemudian dirujuk ke RSUD Dompu untuk menjalani perawatan akibat luka-luka yang diderita. Rabu (07/04/2021).


Beberapa lama berselang, muncul unggahan percakapan WhatsApp yang berisi komentar oknum guru “AG”, yang diketahui merupakan guru siswa tersebut, dan mengharapkan agar siswanya yang ikut konvoi tersebut meninggal.

Kata AG dalam chat tersebut katanya, berselang beberapa lama, murid yang kecelakaan tersebut meninggal dunia dalam perawatan tim medis.

Katanya ada yang kecelakaan tunggal dirujuk ke rumah sakit Bima. Mudahan Mampus.

Oknum guru AG menambahkan dalam chat selanjutnya dalam bahasa Bima, “ka sambele janga siwe mone na Made sih (saya akan sembelei ayam betina dan jantan kalo mati itu).”

Demikian tutur oknum AG dalam chat yang dibagikan oleh temannya, walau beberapa kali teman chattingnya tersebut mengingatkan agar tidak mengeluarkan sumpah serapah terhadap muridnya itu.

Tidak berselang lama setelah hasil chatingan itu beredar, diketahui siswa yang kecelakaan tersebut meninggal dunia.

Direktur KMI Miftahul Ma’arif mengecam sumpah serapah dari chattingan oknum guru AG, saya selaku direktur Ksatria Muda Indonesia dengan hormat meminta kepada pihak Dinas Pendidikan Provinsi NTB untuk menindak lanjuti oknum guru honorer SMA 1 Wera Kabupaten Bima yang telah bersikap arogan terhadap muridnya dan ini sudah melanggar profesi guru.

“Sebagaimana diataur dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005, pasal 1 menjelaskan bahwa (guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih menilai dan mengevaluasi itu sudah menjadi profesi guru).

Apa yang dilakukan oleh oknum guru tersebut sudah menimbulkan keresahan dan mengundang amarah dari berbagai kalangan terutama keluarga siswa yang mengalami kecelakaan maut tersebut.

Ditrektur KMI Mifahul Ma’arif melanjutkan, jika hal ini tidak segera ditindaklanjuti, khususnya oleh pihak-pihak terkait, maka kami dari Ksatria Muda Indonesia (KMI) akan segera melaporkan oknum guru tersebut kepada pihak yang berwajib untuk dijerat atas ulahnya tersebut.

Baca juga :   GenRe Indonesia dan BKKBN Resmikan Container Office