FacebookTwitterEmailGmailWhatsApp

Koid – Melansir tulisan pemilik akun kompasianer, Rudi W sempat mengulas legalitas daun ganja di Inggris pada 13 Oktober 2018.

Menariknya Kompasianer ini menuliskan manfaat daun ganja untuk pengobatan, bukan dikonsumsi sembarangan.

Rudi W mengawali tulisannya, pemerintah Inggris melalui Sajid Javid sebagai Menteri Dalam Negeri mengeluarkan pengumuman tentang diizinkannya penggunaan ganja.

“Anda jangan salah mengerti, ganja tersebut ganja yang digunakan hanya untuk pengobatan,” singkatnya.

Ia menyebutkan, diperbolehkannya daun ganja dikonsumsi sebagai obat di Inggris berawal dari desakan sebagian masyarakat terkait kasus seorang anak penderita epilepsi.

Billy Caldwell, remaja berusia 13 tahun mengalami kejang-kejang dan nyaris merenggut nyawanya setelah daun ganja yang biasa ia konsumsi dilarang dan bahkan disita oleh otoritas setempat.

“Ganja ternyata bermanfaat juga untuk pengobatan terutama untuk mengobati penyakit epilepsi seperti yang diderita Billy Caldwel,” terang Rudi pada media Sabtu 1 Februari 2020.

Itulah latarbelakang mengapa pemerintah Inggris memperbolehkan daun ganja guna dikonsumsi sebagai obat, terhitung mulai tanggal 1 November 2018.

Selain epilepsi, penyakit-penyakit lain yang mempergunakan daun ganja untuk pengobatan adalah pusing-pusing dan nyeri akibat kemoterapi.

Keputusan Pemerintah Inggris menggunakan daun ganja sebagai obat syaraf khususnya epilepsi telah mendapat persetujuan dari negara Skotlandia dan Wales, kecuali Irlandia.

Dengan demikian, Inggris resmi bergabung dengan pemerintah Jerman yang juga memperbolehkan daun ganja untuk pengobatan.

“Dalam keterangannya yang dimuat di Guardian, Sajid menjelaskan bahwa pembolehan itu didasarkan pentingnya tindak cepat menangani pasien dalam keadaan kritis. “Daun ini bisa didapatkan dengan resep biasa di apotek,”, katanya, Jum’at (12/10/2018) lalu.

Sajid menambahkan, daun ganja yang boleh diresepkan adalah jenis cannabinol dan turunan cannabinol, cannabis, dan cannabis resin.

Namun demikian, daun ganja tidak diperbolehkan digunakan untuk obat-obatan terlarang.

Lebih lanjut, Rudi W menuturkan seorang bocah dengan epilepsi, Billy Caldwell tidak merespon obat-obatan reguler yang diberikan dokter kepada Billy Caldwell untuk upaya penyembuhan bocah ini. Bahkan Billy diserang 30 kali epilepsi dalam sebulan sampai nyaris merenggut jiwanya.

Suatu saat, resep medis akan dialihkan ke dokter umum setempat di Country Tyrone, Irlandia Utara. Namun belum sampai ke sana, Billy mencari alternatif pengobatan lain di Amerika Serikat. 

“Cara pengobatan di negeri Paman Sam itu menggunakan bahan dari daun ganja, yakni minyak ganja. Namun patut diketahui, minyak ganja CBD ini tidak mengandung zat kimia yang bisa menyebabkan mabuk seperti umumnya,” urai kompasianer ini.

“Apa yang terjadi, setelah pengobatan menggunakan berbahan dari daun ganja kondisi Billy Caldwell mulai membaik dalam tempo 300 hari kemudian,” kata Rudi W.

“Billy Caldwell bahkan kini mempunyai minyak ganja yang dinamainya: Billy’s Bud.  Minyak tersebut terdapat di Inggris serta bisa dibeli di seluruh dunia,” kata Rudi dalam kompasiana.

Ibu Billy, Charlotte Caldwell mengaku bahwa ia banyak dihubungi keluarga yang memiliki kasus yang sama seperti yang dialami anaknya. Charlotte menyadari ratusan keluarga tersebut sangat membutuhkan pertolongan. Karena biaya untuk penyembuhan epilepsi itu terlampau mahal.

Nah, guna menanamkan kesadaran pentingnya pemakaian minyak ganja ini, ibu Billy pun lantas menggelar acara yang dilangsungkan di rumahnya.

Baca juga :   Anggota DPRD Kabupaten Bima Angkat Suara atas Penahanan 3 Aktivis Penolak Tambang

“Yang terpenting, Billy telah kembali, CBD telah mengembalikan hak saya sebagai seorang ibu” ujar Charlotte.

Beberapa saat lalu, Majelis Ulama Indonesia memperbolehkan penggunaan vaksin MR untuk menanggulangi penyakit Rubella. Kalau Pemerintah inggris meligalkan daun ganja, hanya untuk pengobatan. Nah, bagaimana dengan Pemerintah Indonesia?