impor sampah Syarifuddin Umar

Komitmen, Indonesia – Keanekaragaman hayati merupakan bagian penting dalam rantai kehidupan manusia terutama pada life support system seperti rantai pangan, siklus hidrologi, siklus energi dan lain-lain. Atas dasar ini, maka tema yang diangkat dalam hari Keanekaragaman Hayati 2019 ini adalah ”Our Biodiversity, Our Food, and Our Health”.

Salah satu nilai penting dari keanekaragaman hayati (kehati) adalah nilai konsumsi. Nilai ini merupakan manfaat langsung yang diperoleh dari keanekaragaman hayati, misalnya pangan, sandang, dan papan. Masyarakat Indonesia mengkonsumsi tidak kurang dari 100 jenis tumbuhan biji-bijian dan umbi-umbian sebagai sumber karbohidrat yang dikonsumsi langsung maupun sebagai bahan-bahan produksi. Tidak kurang dari 100 jenis kacang-kacangan, 450 jenis buah-buahan serta 250 jenis sayur-sayuran dan jamur juga digunakan dalam menu makanan masyarakat Indonesia.

Kontribusi keanekaragaman hayati kita sangat besar dan baru beberapa saja dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Sebagai contoh, untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat, padi masih sangat mendominasi, padahal umbi-umbian yang tumbuh banyak di berbagai daerah sangat potensial untuk bisa dimanfaatkan secara optimal. Kebutuhan gula Indonesia juga masih dipenuhi dari tebu,padahal gula dari aren dan kelapa sangat potensial untuk dimanfaatkan. Demikian pula pemenuhan daging, terutama dagiang sapi masih mengandalkan sapi impor padahal banyak sapi asli Indonesia yang potensial dibudidayakan untuk memperkuat ketahanan pangan.   

Indonesia adalah negara superpower, namun bukan karena punya banyak tank, kapal perang, atau pesawat tempur. Akan tetapi superpower dalam hal memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang tak tertandingi oleh negara manapun di dunia. Keanekaragaman hayati bukan hanya mencakup spesies, tetapi juga genetik dan ekosistem. Sebagian besar keanekaragaman hayati Indonesia berpusat di hutan hujan tropis dan laut yang mendominasi luas wilayah kita.

Baca juga :   Patuhi Regulasi Prokes, DPP IMO-Indonesia Akan Kukuhkan DPW Secara Kolektif

Berbagai jasa dan layanan keanekaragaman hayati sudah dimanfaatkan sejak manusia diciptakan, mulai dari sebagai sumber pangan, obat-obatan, energi dan sandang, jasa penyedia air dan udara bersih, perlindungan dari bencana alam, hingga regulasi iklim. Kehati juga dimanfaatkan oleh masyarakat umum untuk perkembangan sosial, budaya dan ekonomi. Hubungan kepentingan manusia terhadap kehati telah menghasilkan banyak pengetahuan lokal (traditional knowledge) termasuk obat-obatan dan berbagai macam makanan hingga pengetahuan genomik yang menghasilkan produk industri.

Pemerintah Indonesia telah membuat berbagai regulasi terkait dengan pengelolaan dan pelestarian ekosistem (konservasi SDA dan ekosistemnya; sumberdaya air; kehutanan; pesisir dan pulau-pulau kecil, jenis dan hasil budidayanya (perikanan, pangan, perternakan dan kesehatan hewan, sistem budidaya tanaman) maupun langkah-langkah perlindungan (penataan ruang, perkarantinaan, serta perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup). Selain itu, Indonesia juga telah melakukan ratifikasi beberapa konvensi internasional seperti Pengesahan UNCED, Pengesahan UNFCCC, Pengesahan Genetic Resources, serta Pengesahan Protokol Nagoya.

Meskipun demikian, regulasi yang ada belum memenuhi seluruh aspek yang bisa mendukung pencapaian misi pengelolaan kehati yang diharapkan. Hal ini terutama perlu didukung oleh regulasi turunan yang bersifat lebih operasional dan teknis dalam mengelola kehati secara berkelanjutan.

Keanekaragaman hayati merupakan aset bagi pembangunan nasional dan daerah, sehingga diperlukan pengelolaan secara terpadu, baik antar sektor maupun antar tingkat pemerintahan. Kegiatan pembangunan dan/atau pemanfaatan sumber daya alam berpotensi mengakibatkan kerusakan dan mengancam kelestarian keanekaragaman hayati baik pada tingkat sumber daya genetik, spesies, maupun ekosistem.

Berdasarkan Laporan panel ahli Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) di bawah koordinasi PBB pada 7 Mei 2019 memperingatkan bahwa laju kepunahan ragam hayati telah berdampak pada keberlangsungan hidup seluruh makhluk di bumi, termasuk manusia. Berdasarkan laporan itu, kelimpahan spesies asli di sebagian besar habitat daratan, air tawar, dan lautan telah turun paling sedikit 25 persen sejak tahun 1900 dan laju degradasinya melonjak dalam 40 tahun terakhir. Ada 680 spesies hewan bertulang belakang (vertebrata) telah punah, termasuk kura-kura raksasa pinta dari Galapagos yang punah pada 2012.

Baca juga :   Kriminalisasi 3 Aktivis Anti Tambang, PEMDA Bima Didemo Pemuda dan Mahasiswa

Lebih dari 9 persen spesies dari semua jenis mamalia yang diternakkan untuk pangan dan pertanian punah pada 2016, dengan setidaknya 1000 jenis lain terancam. Untuk spesies amfibi yang terancam punah 40 persen , terumbu karang dan mamalia laut 33 persen, burung 14 persen, dan serangga minimal 10 persen. Tanpa perubahan menyeluruh terhadap sistem ekonomi, sosial, dan politik dunia untuk mengatasi krisis ini, panel IPBES memproyeksikan kehilangan kehati akan berlanjut hingga titik kritis pada tahun 2050.

Sebagai negara kepulauan dengan kehati yang sangat tinggi, Indonesia rentan kehilangan keanekaragaman hayatinya. Oleh karena itu pemerintah berkewajiban mengembangkan peraturan perundang-undangan yang mengatur pemanfaatan dan pelestarian kehati. Pihak swasta tidak hanya berkepentingan untuk memanfaatkannya, tetapi juga berkewajiban untuk memelihara serta menyeimbangkan kepentingan dan kewajiban.

Setiap sektor dalam pemerintahan perlu memiliki strategi untuk memanfaatkan dan melestarikan kehati yang menjadi tanggung jawabnya. Diperlukan pula komitmen bersama untuk saling memadukan kepentingan sehingga tidak terjadi tumpang tindih. Di samping itu pemantauan dan pengawasan semua kegiatan perlu ditingkatkan dalam pemanfaatan dan pelestarian kehati.

Dalam sistem alam, manusia merupakan bagian dari alam yang berinteraksi dengan alam sebagai lingkungannya. Dengan kata lain, pada sistem alam ini manusia ada dan hidup dalam lingkungan alam. Manusia mempengaruhi dan dipengaruhi lingkungan hidupnya. Manusia membentuk dan dibentuk oleh lingkungan hidupnya. Olehnya itu manusia dituntut bertanggung jawab terhadap lingkungan, alam, termasuk dalam hal perlindungan terhadap keanekaragaman hayati agar tidak punah.

Mari kita bersama-sama menjaga keseimbangan alam ini karena alam telah memberikan surga kecil di dunia. Di antara makhluk yang menempati dan tinggal di bumi, manusialah yang mempunyai tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikannya.