Kutoin (Obat Anti Epilepsi)

Komitmen – Obat Anti Epilepsi bagi ODE sebagai bentuk Ketergantungan atau Kebutuhan sih. Banyak pendamping Orang Dengan Epilepsi bahkan ODEnya sendiri belum mengerti tentang Obat Epilepsi.

Parahnya lagi banyak pendamping maupun orang dengan epilepsi yang nekat menghentikan obat dengan alasan takut ketergantungan atau kecanduan.

Dampaknya justru mencelakai diri sendiri, dengan kambuhnya kejang atau anfal, maka pengobatannya harus dimulai dari awal. Kalau sudah begitu siapa yang dipersalahkan? Hayoo.

Kita harus mengerti lebih dulu mana yang disebut ketergantungan atau kebutuhan, dan kita harus lihat efek sampingnya, baik atau buruknya bagi tubuh.

Ketergantungan itu apabila kita mengonsumsi obat-obatan atau apa saja yang tidak dibutuhkan oleh tubuh dan jika diberhentikan tubuh akan ketagihan atau sakaw, misalnya psikotropika, minuman keras, ganja, sabu-sabu, narkoba dan lain-lain.

Sedangkan obat untuk ODE itu adalah kebutuhan karena jika berhenti minum obat dan kambuh lagi bakal repot.

Dan tahukah anda setiap kejang akan ada jaringan syaraf yang rusak diotak. Jika dilihat dari efek baik atau buruknya jelas bahwa Obat Anti Epilepsi bagi ODE adalah suatu kebutuhan bukan ketergantungan.

Ibaratkan kursi roda buat orang yang tidak punya kaki, apakah menurut anda itu ketergantungan atau kebutuhan?.

Dilihat dari efek baik dan buruknya jelas kursi roda adalah kebutuhan bukan ketergantungan, karena dengan kursi roda orang tersebut bisa lebih banyak beraktifitas dan bisa belajar mandiri.

Namun jika dipakai oleh orang normal karena dia malas gerak, maunya dibantu orang untuk kesana kemari itu akan menjadi sebuah ketergantungan karena sebetulnya badan dia tidak membutuhkan itu.

Silahkan pertimbangkan kembali oleh anda para oendamping atau ODE nya sendiri.

Apakah anda berani mengambil resiko jika obat anda berhentikan lalu kambuh lagi dan biasanya lebih oarah dari sebelumnya?

Saya diharuskan makan obat seumur hidup oleh dokter, tapi buat saya tidak masalah yang penting saya bisa beraktifitas seperti orang normal lainnya dan tidak tergantung orang lain.

Puluhan tahun saya berhenti makan obat anti epilepsi. Setelah menikah dan mempunyai anak, kejangnya parah.

Setelah konsultasi ke dokter syaraf, hingga usia kepala empat sekarang ini masih minum obat.

Teman-teman saya bahkan bertanya-tanya dengan alasan yang sama yaitu takut ketergantungan. Maksud teman itu bagus, akan tetapi apabila tidak makan obat ujung-ujungnya sering kambuh dan yang paling parah kejang-kejang hingga mengeluarkan busa dalam keadaan tidak sadar di Rumah, untuk tahunnya lebih kurun waktunya 2006-2013.

Sejak saat itu saya tidak berani berhenti makan obat lagi, sebelum mendapat rekomendasi dokter syaraf. Selain itu saya juga masih suntik vitamin apabila badan terasa capek karena kelelahan beraktivitas.

Saya coba disiplin makan obat anti epilepsi jenis kutoin, phinobarbital atau Luminol dan vitamin B6 sampai sekarang dan Alhamdulillah sejauh ini tidak pernah kambuh lagi.

Obat kutoin satu dos isi 10 strip harganya cukup mahal dibandrol dengan harga Rp. 130.000. Phinobarbitol perbotolnya dipasaran dilepas Rp. 100.000 untuk vitamin B6 agak murah per bijinya Rp. 2000 dan semuanya tidak ditanggung Asuransi Kesehatan, dimana iuran kesehatan dipotong bulanan. Semoga kabar baik ini membawa kebaikan.

Semoga bisa menghilangkan kegalauan anda tentang takut ketergantungan akan OAE. Salam sehat.

Baca juga :   Gandeng Komunitas Jatim, Lapas Surabaya Lakukan Fogging Disinfektan di Blok Hunian

Kisah diatas terinspirasi dari pejuang epilepsi Bung Melky, informasinya sangat bermanfaat bagi orang banyak, terutama para ODE seperti saya yang juga seorang ASN. Sebagai pegawai banyak hal tidak diketahui orang lain khususnya pimpinan kita, apalagi rekan-rekan kantor. Sebab tidak semua menerima kondisi ini. Melalui tulisan ini saya mengucapkan banyak terima kasih untuk bung Melky yang mau berbagi dan itu juga saya alami.