Hand Sanitizer


Komitmen, Takalar – Minuman keras khas Sulawesi Selatan jenis Ballo, yang selama ini dikenal sebagai minuman memabukkan. Ditangan Polres Takalar disulap menjadi hand sanitizer

Kita tentu tahu dampak dari minuman ballo ini memabukkan tapi tetap saja diminum, padahal ballo ini lebih banyak mudhoratnya ketimbang manfaatnya bagi kesehatan. Tindakan kriminal selain frustasi, keterdesakan ekonomi, miras jenis ballo menjadi pelecut melonjaknya angka kriminalitas.

Misalnya pada suatu pesta pernikahan awalnya berjalan mulus-mulus saja, berubah berantakan gara-gara miras dalam hal ini jenis ballo’, mulai dari perkelahian atau tawuran antar kampung, pemerkosaan hingga pembubuhan.

Bukannya tanpa sebab kriminalitas itu lantaran kehilangan kesadaran setelah menenggak miras apapun jenisnya.

Minuman khas Sulawesi jenis ballo ini ditangan Kepolisian Resort (Polres) Takalar diolah sedemikian rupa menjadi bermanfaat. Mengingat masih mewabahnya pandemic Covid-19. Minuman jenis ballo menjadi inspirasi Polres Takalar dengan membuat suatu inovasi baru yakni Hand Sanitizer berbahan dasar ballo‘.

Kita pasti tahu lah, bahwa hand sanitizer merupakan racun berupa cairan antiseptik sama halnya desinfektan dengan kandungan alkohol mematikan apabila masuk ke dalam tubuh manusia.

Inovasi Ballo menjadi hand sanitizer hasil terobosan Polres Takalar ini mendapatkan apresiasi dari Kapolres Takalar AKBP Beny Murjayanto.

Wabah pandemi covid-19 serta pemanfaatan ballo sebagai minuman keras melatarbelakangi Polres Takalar, melalui perintah langsung Kapolres mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk membuat Hand Sanitizer dari bahan Ballo.

Atas terobosan ini, paradigma negatif ballo hanya menjadi penyakit masyarakat, apabila diolah secara bijak, minuman keras jenis ballo hal yang sering dianggap perusak generasi bangsa berubah seratus delapan puluh derajat akan bermanfaat bagi masyarakat, yaknj dibuat menjadi Hand Sanitizer.

Minuman ballo ini dibuat dari jenis pohon lontar akrab dikenal ballo tala’. Pihak Polres Takalar tidak kerja sendirian. Pihak Polres Takalar berkoordinasi Kimia Farma untuk membuat minuman keras ini menjadi Hand Sanitizer.

Melansir retorika, Rabu (25/11/2020) Kapolres Takalar mengungkapkan bahwa bahan untuk Ballonya dari pohon Lontar.

Kapolres Takalar menyebutkan, Ballo di Kabupaten Takalar cukup banyak. Untuk memanfaatkan minuman khas Sulawesi Ballo ini pun dimanfaatkan tim Polres Takalar bekerjasama dengan Kimia Farma. Melalui proses penyulingan, ballo mengandung alkohol 42 persen sehingga hasilnya diolah menjadi hand sanirizer.

Menurut Murjayanto, pria kelahiran Sleman, untuk saat ini Hand Sanitizer yang dibuatnya sebanyak 200 botol dengan memakan waktu selama 3 hari lamanya.

Setidaknya atas terobosan baru Polres Takalar ini, miras jenis ballo tidak hanya dikenal sebagai minuman keras memabukkan saja, tetapi sudah merambah menjadi sesuatu yang bermanfaat yakni hand sanitizer yang bernilai ekonomis bagi masyarakat sekitarnya.

Jangan lagi ada istilah, kasih di tangan langsung diminum lagi, tentunya ini perbuatan konyol merusak kesehatan diri sendiri. Mau dibilang populer, hebat, kuat karena minum ballo’ malah tercebur dalam kubangan lumpur kriminalitas.

Sementara di Rusia, untungnya bukan di indonesia ya bro sis…

Begini ceritanya, tujuh orang Rusia tengah menggelar pesta, kebiasaan orang bule, tidak afdol pesta malam tanpa miras, sebut saja bir, wiskey dan sejenisnya.

Pepatah bijak tak ada rotan akar pun jadi benar-benar dimanfaatkan betul oleh orang Rusia ini. Dalam pesta itu tidak didapat bir akhirnya menenggak hand sanitizer yang membuat ke tujuh orang tersebut hidupnya berakhir.

Sontak saja, kejadian nyleneh itu membuat publik geleng-geleng kepala, gara-gara kehabisan bir sebagai miras, pencuci tangan pun ditelan. Peristiwa meninggalnya tujuh orang di sebuah pesta di Rusia dikarenakan keracunan setelah meneggak hand sanitizer, sebab mengandung metanol atau alkohol kayu. Memang konyol sih, itulah pengaruh minuman keras, tidak ada manfaatnya sama sekali bagi tubuh manusia.

Mirisnya lagi, tewasnya tujuh orang tersebut, sebagaimana yang beredar di media kisaran usia 27 hingga 69 tahun, meminum racun antiseptik 69 persen metanol sungguh sesuatu yang sangat tidak mendidik, jangan coba menirunya di rumah, atau memang sudah mengalami minum racun, itu hak anda ya.

Haji Rhoma Irama pernah berpesan agar menjauhi minuman keras dan narkotika sebagaimana lirik lagu yang sederhana namun penuh petuah, salah satu lagu tersebut berjudul Mirasantika.

Lirik tersebut menuliskan dulu aku suka padamu dulu, dulu aku gila padamu, sebelum aku tahu kau dapat merusak jiwa dan menghancurkan hidup.

Setelah tahu, sekarang tak mau, tak sudi. Minuman keras apa pun namaya tak akan direguk dan tak diminum lagi, walau setetes.

Tak mau mengenal dan tak mau mengenal narkotika apa pun jenisnya, bahkan tak mau menyentuhnya lagi, walau secuil.

“Mirasantika? No way,” kata Haji Rhoma Irama.

Kalau masih melanggar, sungguh terlalu!

Baca juga :   Tingkatkan kapasitas Lulusan, Teknik Industri FTI-UMI adakan kuliah Umum