FacebookTwitterEmailGmailWhatsApp

Komitmen, Akhir pekan bersama Shinatria Adhityatama seorang Arkeolog Puslit Arkenas sebagai narasumber utama. Shinatria Adhityatama, Arkeolog, Puslit Arkenas Meringkas penelitian-penelitian arkeologi maritim yang dibahas melalui temuan-temuan kapal di perairan laut Indonesia. 

Dan Mahandis Yoanata Thamrin dikenal sebagai Managing Editor National Geographic Indonesia. Webinar yang bertajuk Bincang Redaksi-9 menyingkap misteri laut jawa, kisah dibalik penelitian tentang kapal perang sekutu Jerman sampai U-Boot Jerman. Sabtu (20/6/2020) lalu

Webinar tersebut begitu mengesankan, sehingga partisipan menyimak pembahasan kejayaan sejarah masa lampau. Sebut saja kisah Perang Dunia II telah berakhir 75 tahun silam. Bencana kemanusiaan itu meningalkan sisa-sisa sejarah dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Tak terkecuali di Indonesia, walaupun kita tidak terlibat langsung dalam momentum bersejarah itu, namun tanah air menjadi saksi pertempuran-pertempuran masa lampau.

“Sejarawan berkata bahwa Indonesia adalah terra bellica (tanah pertempuran) karena kabarnya pertempuran akhir PD II itu di Balikpapan saat tentara-tentara Australia menyerang Jepang di sana. Kendati kita bukan bagian Perang Dunia I, kita memiliki monumen Perang Dunia I untuk menghormati skuadron Jerman Asia Timur yang bertempur dengan Inggris di Falklands.

Monumen itu berada di pinggang Gunung Pangrango. Terkait dengan Laut Jawa ini adalah bagian dari Pasific theatre,” Mahandis Yoanata Thamrin, Managing Editor National Geographic Indonesia.

Laut Jawa tampaknya sudah ditakdirkan menjadi bagian penting dari sejarah. Perannya pun amat besar sebagai rute pelayaran rempah. Bahkan rutenya sibuk hingga hari ini, tambah Mahandis.

Pertempuran Laut Jawa adalah pertempuran laut yang utama dalam kampanye pasifik selama PD II. AS dan sekutu mengalami kekalahan telak terhadap jepang pada 27 Feb 1942. Terhitung 2300 pelaut AS gugur dalam pertempuran itu. Menariknya, perang itu juga melibatkan orang-orang bersuku jawa, bugis, dan lainya.

Kemudian ada Pertempuran Selat Sunda sebagai lanjutan dari Pertempuran Laut Jawa. Kapal HMAS Perth dan USS Houston menerima perintah untuk berlayar dari Tanjung Priuk pada 28 februari untuk berlayar di Selat Sunda ke Cilacap. Namun naas, mereka disergap oleh armada Jepang. Pada tengah malam pada 1 maret, HMS Perth dan USS Huoston tenggelam.

“Lokasinya ada di Banten Bay, kondisinya sekarang memperlihatkan bahwa USS Huoston masih lebih baik sejak penlitian di tahun 2017. Dibanding HMAS Perth, sekitar 70% kondisinya masih utuh,” ucap Adhit.

Baca juga :   Tim Satgas Pangan Daerah Kalbar Sebut Stok Beras di Kalbar Cukup

Sementara HMAS Perth, melalui penelitian yang dimulai 2014 sampai 2019 memperlihatkan kondisi yang cukup prihatin. Karena menyisakan 40% dari total keseluruhanya.

Melalui teknologi multi beam, para peneliti melihat  danya kemungkingan lubang besar yang dilaukan oleh salvage secara ilegal.

“Walaupun masih ada rantai dan haluan yang tersisa, kami yakin terjadi ilegal salvage,” ucap Adhit. 

Laut Jawa, tepatnya dekat perairan Bawean juga menjadi kuburan bagi kapal HNMLS de Ruyter, HNMLS Java, dan Kortenaer. De ruyter cukup legenda di belanda, karena ia dikomandoi oleh Dolman, pahlawan Belanda. De Ruyter, dan Java bertipe light cruise, sementara Kortenaer adalah destroyer.

Para peneliti dari Puslit Arkenas dapat mengidentifikasi titik penemuan dari foto-foto penyelam teknikal diver pada 2013.

“Kita bisa mengidentidfikasi kapal de Ruyter karena kita punya foto lama kondisi kantin dan jendelanya punya tanda,” tutur Adhit.

Situs kapal HNMLS Java yang ditemukan memprihatinkan karena hanya tersisa debris besinya. Dari data muti beam dan profiler memperlihatkan hanya tersisa seperti bak. Kapal ini beratnya 6000 dan kondisinya setengahnya hilang.”Ini diambil dengan sengaja dan secara profesional,” jelas Adhit. 

Sementara, Kortenar masih lebih baik, masih ada beberapa bagian di engine room yang masih utuh. 

Selanjutnya adalah kapal selam U-Boot Nazi Jerman yang ditemukan dengan perjalanan 10 jam dari Karimun Jawa pada 2013. Saat itu, data mengenai U-Boot masih samar berapa jumlahnya. Namun menurut arsip ada 11 kapal U-Boot yang menghampiri perariran indonesia.

Tim berhasil mengidentifikasi kapal selam setelah menemukan piring dan cawan yang dibelakangnya terdapat logo elang dan swastika simbol rezim nazi jerman. Setelah menemukan titik yang diduga kuat tempat U-Boot karam, mereka melakukan penyelaman selanjutnya.

“Kita jadi bertanya lagi setelah menemukan, apakah benar ini U-Boot atau kapal Belanda, atau kapal milik kita sendiri. Kita cukup yakin setelah mengeksplorasi bagian dapur. logo itu tadinya tertutup lumut, saya pertama kali melihat ini surprise. Ternyata kapal U-boot ada,” tutur Adhit. 

Baca juga :   Founder Mujahid Dakwah Sampaikan Peran Media dalam Penyebaran Islam di Indonesia

Pada situasi kabin kapal yang gelap di dasar lautan. Banyak sisa-sisa tulang belulang dari kru kapal beserta artefak lainya. 

“Kita juga analisis sisa-sisa tulang manusia yang tidak kita bawa ke daratan. terbukti itu adalah ras kaukasian dan Jermanik. Penemuan ini kapal U-Boot Jerman yang dikendalikan oleh orang Jerman sendiri. Karena banyak juga kapal U-Boot yang dihibahkan ke tentara jepang,” tambahnya. 

Kondis U-Boot yang ditemukan tinggal setengah. Bagian buritanya hilang. Setelah di analisis, kapal itu ditembus oleh torpedo dan meledak di dalam. Sehingga bagian buritan yang memiliki propeler itu masih jalan. Dua bagian ini terpisah dan buritan bisa tenggelam di lautan yang lebih dalam.

Adhit mengatakan bahwa saat kapal ini tenggelam, mereka baerada di posisi battle station, hal itu terlihat dari penemuan aju pelampung yang menempel di sela-sela tulang. 

U-Boot bertipe IXC/40 ini cuup unik karena tenggelam di perarian cukup dangkal di 18-24 meter. Namu para arkeolog masih sulit mengidentifikasi apakah temuan itu adalah U-168 atau U-183.

Mengungkap misteri bagaimana U-Boot bisa sampai ke Indonesia, Adhit menjelaskan bahwa pada PD II terdapat Monsun Gruppe. Sebuah resimen gabungan antara Jepang dan Jerman. Skuadron ini adalah jawaban atas Jerman yang membutuhkan bahan dasar.

“Jepang membutuhkan perairan kita karena minyak. Mereka ingin memutus jalur logistik sekutu dari Asia-Eropa, ini adalah operasi gabungan di Samudra Hindia, Jepang dan Jerman di wilayah yang sama,” tutupnya. 

Pada kesimpulan seminar, Adhit menyampaikan bahwa kapal U-Boot ini adalah penemuan arkeologi pertama dan satu satunya di perairan Asia. Ini merupakan bukti dan bab baru dalam sejarah nasional dan asia menurutnya.

Mahandis Yoanata Thamrin menutup diskusi dengan mengutip perkataan UNESCO. “Lautan adalah museum terbesar yang kita miliki.”