Komitmen, Makassar – Jendral M. Jusuf adalah inisiator pendiri sebuah Rumah Sakit swasta terkenal di kota Makassar, diberinama Akademis Jusuf Jaury Putera.

Selain rumah sakit, sang jendral juga mewariskan bangunan fenomenal yaitu Balai Manunggal dan Masjid Al Markas Al Islami. Ketiganya ia wariskan untuk rakyat Makassar khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Jendral M. Jusuf langsung memerintahkan agar rumah sakit itu segera dibangun. Lokasinya telah ditentukan, yaitu lahan pemakaman Tionghoa yang terletak disamping pasar sentral, kota Makassar. Pertimbangan lokasi di kota telah dipikirkan secara matang.

704px) 100vw, 704px" />
Jenderal M. Jusuf; Panglima Para Prajurit (sumber foto; kompasiana.com)

Pertama lokasinya dekat pasar Sentral yang adalah juga pusat dari angkutan kota maupun dari luar kota sehingga pasien dan pengunjung lain mudah mencapainya. Kedua, adanya lahan pemakaman ditengah kota dianggap tidak patut lagi dari segi tata kota sehingga lahannya lebih baik dimanfaatkan untuk kepentingan umum.

Peletakan batu pertama dilakukan pada 10 Juli 1962 oleh M. Jendral Jusuf. dr Ma’roef sendiri mengusulkan agar Rumah Sakit akademis itu memakai nama dari Putra Jusuf, Jaury Jusuf Putera, yang meninggal pada 31 Oktober 1960.

Berdirinya rumah sakit Akademis sang ini lantaran Jaury Jusuf Putera terkena penyakit tetatus yang tidak bisa terobati karena kelangkaan obat awal tahun 1960- an.

Peletakkan batu pertama pembangunan Rumah Sakit Akademis Jaury Putera M. Jusuf menegaskan bahwa rumah sakit akademis tersebut mempunya tiga misi utama. Pertama, sebagai rumah sakit akadeis mahasiswa kedokteran (teaching hospital). Kedua, Sebagai memorial hospital. Ketiga, sebagai tempat pertolongan bagi masyarakat yang memerlukannnya.

Sumber: youtube

Tiga misi tersebut tidak pernah lepas darinya. Rumah Sakit akademis (RSA) Jaury Jusuf Putera, kemudian menjadi tempat praktek bagi ribuan calon- calon dokter.

Ditegaskan, bahwa Rumah Sakit Akademis Jusuf Jaury Putera, bukan milik Pemerintah baik Kota Makassar maupun Provinsi Sulawesi Selatan. RSA Jaury Putera dibangun tanpa “uang rakyat” seluruh pembangunannya murni dari kebaikan hati Alm. Jend. M. Jusuf dan Istrinya.

Pasalnya Rumah Sakit Akademis ini dibangun atas dasar keprihatinan Jendral Yusuf, kesulitan mencari rumah sakit dan obat untuk puteranya yang sakit tetanus pada eranya.

Misi dan motto pertama RSAJ ini, sebagai rumah sakit peringatan (memorial hospital) justru hanya terlihat dari nama dan sebuah patung ukuran yang sedikit lebih besar dari yang sebenarnya dari Jaury yang berumur sekitar 4 tahun.

Patung yang memancarkan wajah seorang anak yang lincah dan cerdas diletakkan pada ruangan tamu utama kompleks rumah sakit tersebut. Posisi anak dengan celana panjang dan kedua tangan dengan mantap diletakkan ke kedua saku mampu menangkap ekspresi anak yang polos.

Dibagian kaki, tertulis nama anak itu yang adalah reproduksi dari tulisan asli tangannya. Pembuat patung itu, Abdul aziz, sebetulnya seorang pelukis dari Bali.

Tidak jauh dari patung yang diterangi oleh lampu kristal yang terang, pada salah satu dindingnya terpasang batu prasasti peletakan batu pertama kompleks RSA Jaury tahun 1962 dahulu. Jadi selain namanya yang diabadikan pada nama rumah sakit tersebut, kenangan yang ada mengenai RSA Adalah patung itu sendiri.

Pengurus rumah sakit, para dokter dan juru perawat pada awalnya diambil dari sumber daya manusia yang ada di kota Makassar.

Dengan pengaturan yang ketat, RSA Jaury pada tahun 1970 an sudah bisa dikatakan self-sustain, mandiri dalam artian bisa menghidupi pergerakan rumah sakit (operasional, pemeliharaan gedung, pemeliharaan peralatan) dari pendapatannya sendiri.

Perkembangan RSA Jaury memasuki tahapan penting pada tahun 1991 lalu. Pada waktu itu, Ketua Yayasan RSA Jaury M. Jusuf memutuskan untuk melakukan rehabilitasi besar- besaran seluruh pembangunan fisik dan peralatan yang ada. Memang sejak dioperasikan pertama kali tahun 1963, rumah sakit akademis tersebut secara parsial terus diperbaiki atau ditambah peralatannya, tetapi agaknya itu tidak mampu mengejar kebutuhan yang ada, sejalan dengan semakin besarnya pasien yang berobat dan semakin banyaknya calon- calon doter yang berpraktek disana. Beberapa peralatan baru dan ruangan- ruangan pengobatan khusus seperti ruangan operasi dan ICU dibangun antara saat itu sampai tahun 1991.

Malahan ruangan sekelas dengan super Vip juga ditambahkan pada kompleks RSA Jaury, tetapi tetap saja belum memenuhi permintaan masyarakat yang semakin besar.

Semoga masyarakat umum mengetahui apabila ingin berobat ke RS non Pemerintah sebaiknya menyiapkan kartu BPJS.

Apabila tidak memiliki, silahkan ke Rumah Sakit Pemerintah dengan membawa surat pendukung seperti surat keterangan tidak mampu, karena itu semua ada aturan mainnya.

Penasaran, silahkan buka Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016
Tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 Tentang Jaminan Kesehatan.

Tulisan ini didedikasikan buat Keluarga Jendral Yusuf yang kehilangan seorang anak laki-laki bernama Muhammad Jaury Taufiek Jusuf Putra pada 31 Oktober 1960, dilansir dari berbagai sumber blog RS Akademis Jaury Putera.