40 Tahun Denny JA Berkarya
FacebookTwitterEmailGmailWhatsApp

KomitmenLegacy Denny JA 40 Tahun Berkarya. Bagaimanakah Denny JA akan dikenang? Ia akan diingat sebagai the founding father dan konsultan politik pertama Indonesia? Atau, Ia akan lebih diingat sebagai pelopor puisi esai? Atau Ia lebih disebut sebagai penulis pertama Indonesia yang asetnya melampaui 1 Triliun rupiah?

Ataukah Denny JA akan lebih dibicarakan sebagai intelektual entrepreneur multi talenta, yang sangat produktif, menulis 102 judul buku, dari Isu agama, marketing politik, demokrasi, riset Happiness, filsafat, review film hingga sastra?

Denny JA fasih memberi kultum 30 hari berturut-turut sepanjang ramadhan tentang para sufi dan filsuf yang berkiprah 1.200 tahun lalu. Ia posting itu di Youtube dan WA grup sepanjang Ramadhan 2021.

Tapi Denny JA juga canggih bicara soal blockchain technology, uang crypto, lukisan NFT, fenomena mutakhir yang belum banyak orang tahu. Lukisan NFT-nya bahkan laku 1 miliar rupiah dalam lelang digital terbesar dunia di Opensea, juga di tahun 2021.

Inilah renungan awal ketika saya membaca buku tebal yang dibuat untuk menyambut 40 tahun Denny JA berkarya. Dalam buku ini, ada ringkasan 25 buku utamanya. Dalam buku ini juga ada review 18 pakar tentang enam buku utamanya.

-000-

Denny JA adalah teman lama saya dari masa ketika kami masih sama-sama kuliah di Universitas Indonesia tahun 1980-an.

Pada 1981, Denny adalah aktivis mahasiswa yang suka membaca, berdiskusi, dan menuliskan berbagai pemikirannya di media.

Saat itu saya dan Denny hidup di bawah rezim otoriter Orde Baru, yang banyak mengekang kebebasan berekspresi dan kebebasan pers.

Sedangkan pada 2021, Denny hidup di zaman pasca reformasi 1998, di mana kebebasan pers dianggap hal yang sudah biasa. Selain itu, sudah banyak media daring dan media sosial untuk sarana berekspresi bagi para warga.

Selama 40 tahun itu, sedikitnya ada 102 judul buku yang pernah ia tulis. Terbagi dalam bentuk fiksi dan nonfiksi, dengan topik beragam, mulai dari agama, filsafat, politik-ekonomi, marketing politik, demokrasi, ulasan film, catatan perjalanan, psikologi positif, hingga esai sastra.

Ada rekaman 50 video Denny selaku pembicara. Ada 70 video yang mengubah karya sastranya menjadi film, teater, lagu, dan video animasi.

Semua karya itu dimasukkan ke website yang tahun ini sedianya akan diluncurkan.

–o0o–

Selain soal buku, Denny ikut mewarnai jalannya demokrasi Indonesia. Sesudah era reformasi, pertama kali dalam sejarah sejak Indonesia merdeka, presiden dan kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat.

Sebagai akademisi ilmu politik, Denny melihat peluang untuk “mengawinkan” politik pemilu dengan sains.

Pada 2005, Denny melobi Partai Golkar untuk memulai tradisi survei opini publik. Itulah pertama kali partai politik di Indonesia menggunakan survei opini public, untuk menjaring calon pemimpin daerah hingga presiden.

Tradisi itu ternyata berlanjut sampai hari ini. Selama 2005-2021, Denny dan timnya telah melakukan lebih dari 1.000 riset, dari Aceh hingga Papua.

Berkat kiprahnya yang inovatif di ranah tersebut, Denny juga dianggap sebagai founding father profesi baru: konsultan politik, di Indonesia.

Berkat bakat menulisnya, Denny juga merambah dunia sastra. Ia juga aktif di perjuangan antidiskriminasi.

Demokrasi pasca Reformasi 1998 memang sempat diwarnai praktik diskriminasi, terutama terhadap kelompok minoritas, seperti Ahmadiyah dan Syiah. Untuk melawan praktik ini, agar pesan-pesannya dibaca secara meluas, Denny menggunakan karya fiksi sebagai medium.

Isu antidiskriminasi ini diekspresikan melalui puisi. Digabungkan dengan data riset dalam catatan kaki, terciptalah inovasi Denny dalam wujud puisi esai.

Agar bisa bercerita, puisi esai itu dibuat panjang dan berbabak. Isu-isu sosial yang menggugah kemanusiaan dalam puisi itu ditangkap melalui batin personal.

Lima puisi esai karya Denny kini sudah difilmkan oleh sutradara film Ayat-ayat Cinta, Hanung Bramantyo.

Berawal dari satu buku, kini sudah terbit lebih dari 100 buku puisi esai. Yang kolosal adalah lima kisah local wisdom di setiap provinsi dituliskan dalam lima atau enam puisi esai, oleh penulis lokal di provinsi itu.

Maka lahirlah 34 buku puisi esai dari 34 provinsi, yang ditulis oleh 175 penyair. Tak hanya meluas ke aneka provinsi, genre puisi esai pun meluas ke Asia Tenggara.

Pada 2020, Denny dianugerahi penghargaan Sastra tingkat ASEAN di Malaysia atas inovasinya di dunia puisi.

–o0o–

Di samping itu, Denny ikut merawat keberagaman, memoderasi paham agama, dan mengembangkan spiritualitas dari riset soal happiness.

Topik ini banyak mewarnai karya Denny, yang ditulis dalam tiga buku nonfiksi dan satu buku fiksi. Pertama, buku “Jalan Demokrasi dan Kebebasan untuk Dunia Muslim” (2020), yang menyatakan akan ada perubahan signifikan berupa transisi massal 50 dunia muslim menuju demokrasi dan kebebasan.

Kedua, buku “Spirituality of Happiness” (2020), yang menjelaskan kita memasuki era pasca-materialisme. Jumlah manusia yang mati karena kurang makan, kalah dibandingkan jumlah yang mati karena kelebihan makan (terkait obesitas).

Ada hati yang merasa hampa di saat peradaban melimpah. Sementara, radikalisme dan primordialisme agama semakin keras.

Hidup bermakna dan bahagia dapat diraih siapapun, apa pun agama, asal negara, gender, ras, sejauh menerapkan mindset dan habit bahagia.

Formula bahagia itu adalah 3P+2S. Yaitu Personal Relationship, Positivity, Passion (3P), Small Winning dan Spiritual Blue Diamond (2S).

Menyelami banyak agama, Denny merumuskan tiga nilai spiritual yang menjadi inti ajaran: Virtues (Golden Rules), Power of Giving, dan Oneness.

Karena Tuhan satu, alam juga satu, dan manusia juga satu. Walau ada 4.300 agama, ada titik temu yang dapat menjadi ruang publik bersama.

Berdasarkan buku itu, Denny pun merintis tim Happines is Us. Tim itu saat ini sedang menggodok pola pelatihan (diskusi + meditasi) untuk hidup berbahagia. Prinsip utama happiness disusun berdasarkan narasi ilmu pengetahuan.

Ketiga, buku “11 Fakta Era Google: Pergeseran Pemahaman Agama” (2021). Buku ini mencermati data terbaru, bahwa di negara yang paling bahagia (World Happiness Index), paling bersih pemerintahannya (Corruption Perception Index), paling tinggi kualitas manusianya (Human Development Index), mayoritas masyarakatnya tak lagi menganggap agama sebagai bagian penting hidupnya.

Sebagai sosok yang “literate,” Denny berikhtiar ikut memperkaya public library di media sosial. Zaman beralih dari medium tekstual menuju medium audio visual.

Public library juga semakin berbentuk digital. Karya yang dapat diakses internet, dapat dengan mudah dibaca kapan saja, di mana saja, oleh siapa saja.

Karena ada isu copy rights, Denny mulai dengan digitalisasi dan video karya sendirik atau karya yang hak ciptanya ia kuasai dulu.

–o0o–

Terakhir, Denny juga memadukan dunia intelektual dengan entrepreneurship.

Di zaman pergerakan pra kemerdekaan, dikenal sebutan pemikir pejuang atau pejuang pemikir. Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, misalnya, adalah pemimpin yang juga pemikir dan penulis cemerlang.

Untuk zaman kini, istilah yang lebih luas dan sesuai mungkin adalah pemikir entrepreneur, intelektual entrepreneur, atau penulis entrepreneur.

Di kalangan penulis dan intelektual, Denny memposisikan diri pada segmen “penulis yang juga entrepreneur.” Yakni, sosok yang tak hanya mahir dan produktif menulis, tapi juga mahir memimpin social and business entrepreneurship. Entrepreneur itu lebih luas dari pengusaha.

Entrepreneur adalah pengusaha dengan gagasan yang lebih original atau pengusaha plus inovasi.

Di luar negeri, banyak penulis top yang triliuner. Namun di Indonesia tak mungkin penulis menjadi triliuner. Ini karena kondisi industri film, TV dan iklim perlindungan hak cipta belum kondusif.

Namun di negeri ini, penulis yang juga enterpreneur dapat saja menjadi penulis triliuner.

Denny adalah “makhluk langka” yang sudah masuk ke kategori itu. Penulis yang produktif, sekaligus entrepreneur yang berikhtiar sukses, bahkan menjadi triliuner.

Dari membaca bukunya, saya melihat Denny sudah “paripurna” dalam semua karir dan kiprahnya, dan mungkin sudah mencapai aktualisasi diri.

Sebagai sosok yang multitalenta dan serba bisa, Denny sudah menjalani peran aktivis, akademisi, penulis, penyair, sastrawan, pemikir, surveyor, konsultan politik, pengusaha, entrepreneur, spiritualis, dan dermawan.

Khususnya untuk hal-hal yang terkait dengan membangun intelektualitas dan literasi, Denny juga sangat murah hati.

Mengutip ucapan jurnalis senior New York Times, David Leonhardt, mungkin kunci sukses Denny adalah dia dengan sadar melakukan apa yang memberi makna dan kepuasan terbesar dalam kehidupannya untuk jangka panjang.

Denny sangat fokus. Dia betul-betul mengerti apa yang ia inginkan dan ia juga akan berusaha sekeras mungkin untuk mencapainya.

Lalu, sesudah mencapai puncak dari semua itu, ke mana Denny akan melangkah lebih lanjut?

Untuk sosok seperti Denny, berhenti di tempat jelas bukanlah opsi. Menurut Abraham Maslow, yang dikenal sebagai pelopor psikologi humanistik, “Aktualisasi diri adalah realisasi diri yang sehat di jalan menuju transendensi diri.”

Transendensi diri adalah ciri kepribadian yang melibatkan perluasan batas-batas pribadi, termasuk –secara potensial—mengaIami ide-ide spiritual. Seperti, menganggap diri sebagai bagian integral dari alam semesta.

Kalau kita cermati pemikiran Denny dalam bukunya “Spirituality of Happiness,” isyarat dan tanda-tanda ke arah itu cukup terlihat. Kalau memang demikian halnya, itu adalah proses yang menarik.

Dalam buku itu, Denny mengajukan konsep “Oneness” sebagai salah satu rumus menuju kebahagiaan.

Ada banyak definisi tentang “Oneness,” tetapi secara sederhana “oneness” adalah perasaan bahwa segala sesuatu saling terkait, dan segala sesuatu yang kita lakukan berdampak pada dunia. Ini adalah merasa selaras sepenuhnya dengan pemahaman tentang setiap makhluk hidup.

Tentu saja, saya tidak berpretensi mengetahui semua hal tentang “inner-self” atau isi hati Denny. Yang paling tahu adalah Denny sendiri.

Namun, sebagai teman lama, yang juga berusaha objektif sebagai pengamat terhadap karya-karyanya, saya berbesar hati jika Denny JA benar-benar sedang melampaui aktualisasi menuju ke transendensi diri.

Satrio Arismunandar adalah penulis, mantan jurnalis Harian Kompas dan Trans TV, dan lulusan program S3 Filsafat Universitas Indonesia.

Judul Buku: “Mengubah Dengan Gagasan, 40 Tahun Denny JA Berkarya.” Editor: Anick HT. Penerbit: Cerah Budaya Indonesia, Jakarta. Xxii + 414 halaman.

Baca juga :   Pentingnya Pendidikan Politik bagi Generasi Muda