KLHK Akan Gelar Workshop PK Perubahan Iklim Untuk Guru

Komitmen, Gorontalo-Direktorat Mobilisasi Sumberdaya Sektoral dan Regional, Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menggelar workshop Peningkatan Kapasitas Perubahan Iklim untuk guru tingkat SD dan SMP di Kota Gorontalo. Kamis, (24/9/2020).

Workshop ini tetap menerapkan protokol kesehhatan Covid-19 dimulai pada pukul  08.00-16.00 WIB di Maqna Hotel Gorontalo.

Workshop sendiri terdiri dari 2 bagian, tatap muka dan online melalui tautan Zoom Meeting maupun channal Youtube. Peserta mendaftar di bit.ly/gurugorontalo

Mengingat kondisi pandemic COVID-19, diberlakukan pembatasan peserta yang tatap muka bagi Guru Sekolah Dasar sebanyak 20 orang, Guru Sekolah Menengah Pertama lebih kurang 20 Orang. Dari Perwakilan Dinas Pendidikan Kota Gorontalo sebanyak 5 Orang.

Sementara Peserta online melalui Zoom Meeting buat Guru Sekolah Dasar sejumlah 45 orang, bagi Guru Sekolah Menengah Pertama sebanyak 45 orang. Peserta Youtube tak dibatasi.

Melatar belakangi workshop peningkatan kapasitas untuk guru SD dan SMP adalah Dampak dari perubahan iklim dirasakan secara global, namun intensitasnya berbeda dari satu wilayah ke wilayah yang lain.

Dampak perubahan iklim sudah semakin terasa di Indonesia dengan meningkatnya banjir, tanah longsor dan kekeringan (bencana hidrometeorologi) serta perubahan terhadap komposisi keanekaragaman hayati yang menggambarkan kualitas lingkungan. Indonesia yang merupakan negara kepulauan juga sangat rentan terhadap ancaman tenggelamnya pulau-pulau kecil. Dampak ikutan yang disebabkan oleh perubahan iklim dapat menjangkau berbagai aspek kehidupan seperti sosial dan ekonomi sampai menurunnya derajat kesehatan masyarakat.

Guna menghadapai perubahan iklim, tindakan yang harus dilakukan adalah aksi mitigasi perubahan iklim yang merupakan tindakan pencegahan dengan mengurangi pelepasan emisi Gas Rumah Kaca ke atmosfer.

Selain itu guna menghadapai dampak perubahan iklim yang semakin nyata, perlu juga dilakukan aksi adapatsi perubahan ikli. Baik aksi mitigasi maupun aksi adapatasi mempunyai nilai penting yang sama di mana yang satu tidak lebih prioritas dibandingkan yang lainnya.

Kedua tindakan ini pada beberapa kesempatan dapat dilakukan secara bersamaan pada suatu tempat yang sama. Penekanan perlu dilakukan terhadap efektifitas aksi yang dilakukan alih-alih menentukan kegiatan mana yang lebih dulu dilakukan.

Baca juga :   E-Learning PSKL Menjaga Api Semangat Petani di Masa Pandemi

Tindakan pengendalian perubahan iklim (mitigasi dan adaptasi) yang efektif dapat dilakukan jika kapasitas dan kemampuan masyarakat di suatu Negara dirasa cukup. Oleh sebab itu, peningkatan kapasitas bagi masyarakat merupakan hal yang wajib dilakukan.

Berdasarkan Article 6. UNFCCC, peningkatan kapasitas perubahan iklim ini meliputi: pengembangan pendidikan, peningkatan kesadaran masyarakat, peningkatan akses masyarakat terhadap informasi terkait perubahan iklim, dan pelatihan terhadap personil-personil dibidang keilmuan, teknis, dan manajerial.

Pada hakikatnya, peningkatan kapasitas perubahan iklim adalah proses transformasi pembangunan oleh pemerintah bersama dengan seluruh elemen masyarakat dalam mewujudkan pembangunan yang rendah emisi dan tangguh terhadap dampak perubahan iklim.

Dengan demikian, peran seluruh elemen masyarakat dibutuhkan untuk mendukung suksesnya aksi pengenbdalian eprubahan iklim. Elemen masyarakat non pemerintah pusat  yang dikenal sebagai Non Party Stakeholders (NPS) meliputi: pemerintah daerah, Lemabaga Swadaya Masyarakat, komunitas, swasta dan lain-lain.

Salah satu elemen NPS yang dapat berperan strategis adalah Guru. Guru adalah pihak yang diharapkan mampu memahami perubahan iklim dengan lebih mendalam dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya agar mampu mengenalkan, memahamkan, dan mendorong khususnya para siswa didik untuk berperan dalam aksi pengendalian perubahan iklim.

Guru juga mempunyai peran mengemas isu perubahan iklim sehingga memacu anak untuk mencari tahu mengenai suatu persoalan terkait perubahan iklim dan menindaklanjutinya dengan melakukan aksi nyata yang sesuai dengan keseharian mereka.

Guru adalah agen perubahan yang mana perannya sangat menetukan dalam kesuksesan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Ditambah lagi, para siswa didik merupakan bagian penting dalam meneruskan tongkat estafet dalam aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Siswa didik adalah generassi mendatang yang diprediksi merupakan kelompok yang terdampak iklim lebih besar disbanding saat ini jika aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim tidak dilakukan sejak dini.

Peningkatan kapasitas perubahan iklim terhadap guru sangat diperlukan sebagai ujung tombak pendidikan bagi generasi mendatang. Kedanti pun demikian, pendidikan perubahan iklim di Indonesia menghadapi menghadapi beragam tantangan. Sampai dengan saat ini dalam dunia pendidikan, secara formal isu perubahan iklim belum masuk dalam kurikulum nasional. Perangkat dan metodologi untuk mendukung pelatihan perubahan iklim dalam dunia pendidikan juga belum ada. Penambahan kurikulum dalam pendidikan nasional juga mengalami kendala di mana kurikulum nasional sudah sangat padat.

Baca juga :   Tol Pandaan Malang Raih Sertifikat Green Toll

Dikhawatirkan jika penambahan kurikulum tetap dipaksakan maka daya tangkap siswa didik menjadi semakin berkurang. Hal ini dapat disiasati dengan memasukkan isu-isu perubahan iklim ke dalam mata pelajaran yang sudah ada. Pada dasarnya bidang perubahan iklim merupakan bidang lintas keilmuan. Perubahan iklim berkaitan dengan ilmu pengetahuan alam, geografi dan ilmu pengetahuan sosial lainnya.

Selain itu, pendidikan perubahan iklim juga dapat diintegerasikan ke dalam kegiatan ekstrakulikuler yang sudah ada seperti pramuka dan juga kegiatan menjaga lingkungan sekolah.

Dari uraian panjang lebar di atas, Direktorat Mobilisasi Sumberdaya Sektoral dan Regional (MS2R), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kota Gorontalo memiliki inisiatif untuk mengadakan Workshop Peningkatan Kapasitas Perubahan Iklim untuk Guru yang akan diikuti perwakilan guru-guru tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Workshop ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman Guru tentang perubahan iklim terkait penyebab, dampak, langkah-langkah mitigasi dan adaptasi, serta mendiskusikan bagaimana isu ini dapat disampaikan dan diterima oleh para peserta didik.

Secara umum workshop ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman Guru tentang perubahan iklim terkait penyebab, dampak, langkah-langkah mitigasi dan adaptasi, serta mendiskusikan bagaimana isu ini dapat disampaikan dan diterima oleh para peserta didik.

Secara khusus, tujuan workshop meningkatkan pemahaman Guru terhadap isu perubahan iklim, kemudian meningkatkan kapasitas Guru dalam hal perkembangan isu perubahan iklim di nasional maupun internasional.

Selanjutnya, Mengetahui proses integrasi isu perubahan iklim ke dalam pendidikan SD dan SMP. Membahas teknis, permasalahan, dan solusi penyampaian isu perubahan iklim kepada para siswa.