FacebookTwitterEmailGmailWhatsApp

Komitmen, Rosululloh SAW menaiki Bukit Shafa. Kemudian dengan suara lantang, beliau memanggil-manggil.

“Wahai orang-orang Quraisy! Wahai orang-orang Quraisy!”

Penduduk Mekah yang sibuk dengan urusannya terkejut dan menoleh. “Muhammad berseru dari atas Shafa!” seru mereka.

Seketika, orang-orang datang berduyun sambil bertanya-tanya khawatir,
“Ada apa?”

Rosululloh SAW memandang kerumunan orang di bawah yang menatapnya dengan wajah penuh tanda tanya.

“Bagaimana pendapat kalian kalau kuberi tahu bahwa di balik-bukit ini ada pasukan berkuda yang siap menyerbu. Percayakah kamu kepadaku?”
tanya Rosululloh SAW.

“Kami percaya!” jawab orang-orang yang di berkerumun itu.

“Kami tidak akan meragukan kata-katamu. Tidak pernah kami mendengar engkau berdusta.”

Rosululloh SAW menarik napas dan menyampaikan seruannya,

“Aku mengingatkan kalian sebelum datang siksa yang amat berat! Wahai orang-orang Quraisy, Alloh memerintahkan aku untuk memberi peringatan kepada kalian bahwa yang terbaik bagi kehidupan dunia dan akhirat adalah mengucapkan kalimat ‘Laa ilaaha illallooh Muhammadurrosululloh.”

Sejenak orang-orang tampak terpesona. Namun, Abu Lahab yang juga hadir di situ, dengan cepat naik darah. Ia berseru keras-keras mencaci Rosululloh SAW.

“Celaka engkau, Muhammad! Binasa dan celakalah seluruh hari-harimu! Hanya untuk omong kosong itukah kamu mengumpulkan kami?”

Rosululloh SAW tidak berkata apa-apa dihina sekeras itu. Beliau hanya menatap tajam wajah Abu Lahab. Setelah teriakan Abu Lahab itu, orang-orang Quraisy seperti disadarkan dari rasa terpesonanya. Mereka bubar dengan bermacam tingkah. Ada yang mengerutkan kening, ada yang berbisik-bisik, ada yang melirik Rosululloh SAW sambil tersenyum mencibir.

Hinaan Abu Lahab itu tidak dibiarkan Alloh. Turunlah firman yang mengutuk perbuatan itu.

Turunnya Surat Al Lahab

Alloh berfirman: mengutuk Abu Lahab, Surah Al-Lahab (111)

Baca juga :   Pemuda Milenial Bulukumba Siap Menyongsong Peradaban dan Kejayaan Islam

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.

Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.
Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.

Wahai Abu Lahab, sekarang apa yang akan engkau katakan? Dengarlah, keponakanmu Muhammad tidak akan pernah lagi bungkam terhadap orang yang menentangnya. Keponakanmu Muhammad tidak akan pernah lagi menerima caci maki dan hinaan dari siapa pun sekali pun dari pamannya sendiri. Jika caci maki itu ditujukan pada ajaran Allah yang dibawanya.

Keponakanmu Muhammad bahkan siap terjun ke medan laga untuk menghadapi orang-orang yang sombong dan congkak seperti dirimu.

Wahai Abu Lahab dengarkanlah! Dengarkanlah firman Alloh yang baru turun itu! Bukankah firman itu seperti gelegar petir yang menyambar dirimu?

Dirimulah yang binasa, Abu Lahab! Seluruh hari-harimulah yang binasa! Binasalah kedua tanganmu dan sungguh engkau akan benar-benar binasa!

Abu Lahab

Nama asli Abu Lahab adalah Abdul Uzza. Abu Lahab artinya si “Umpan Api”.

Bisa dibayangkan betapa sakitnya hati Rosululloh ﷺ dihina Abu Lahab. Abu Lahab adalah paman Rosululloh SAW

Lebih dari itu Rosululloh SAW menikahkan kedua putrinya, Ruqayyah dan Ummu Kultsum dengan ke dua putra Abu Lahab, Utbah dan Utaibah.

Ummu Jamil

Selain Abu Lahab, ada seorang lagi yang amat murka dengan turunnya Surat Al Lahab. Dia adalah Ummu Jamil, istri Abu Lahab. Begitu mendengar bunyi Surat Al Lahab yang disampaikan orang kepadanya, hati Ummu Jamil menggelegak marah. Ia keluar rumah dan berjalan ke sana kemari mencari sasaran pelampiasan kemarahan. Tidak lama kemudian, ia bertemu dengan Abu Bakar. Amarahnya naik ke ubun ubun.

Baca juga :   Kisah Sukses Penjual Sayur Asal Galesong Takalar

“Apa maksud temanmu melantunkan syair tentang diriku?” bentak Ummu Jamil kepada Abu Bakar.

Abu Bakar mengerti bahwa yang dimaksud Ummu Jamil adalah Rosululloh. Sebenarnya, saat itu Rosululloh ada di sisi Abu Bakar, tetapi Alloh menutupi beliau dari pandangan Ummu Jamil.

“Demi Alloh, temanku itu tidak pandai bersyair!” sanggah Abu Bakar.

“Bukankah temanmu itu mengatakan bahwa di leherku ada tali dari sabut yang dipintal?”

Ummu Jamil meraba-raba lehernya. Di leher itu, ada untaian kalung yang amat indah. Ia mempertontonkan perhiasannya itu kepada Abu Bakar sampai Abu Bakar merasa jengah dan memalingkan wajahnya.

“Inilah tali sabut yang dimaksud temanmu itu?” ejek Ummu Jamil sambil tersenyum. “Tidakkah ini merupakan tali sabut paling indah di dunia?”

Ummu Jamil kemudian berlenggak-lenggok genit sambil mempermainkan kalungnya. Ia tertawa dengan congkak. Abu Bakar tidak membalas, beliau cuma memejamkan mata.

Melihat Abu Bakar yang tetap tenang, Ummu Jamil melengos pergi sambil mengomel,

“Semua orang Quraisy tahu bahwa aku adalah putri kebanggaan mereka!”

Ummu Jamil adalah wanita yang sangat cantik. Ummu Jamil berarti “Ibu Kecantikan”. Namun, seperti suaminya, Ummu Jamil sangat membenci Rosululloh dan kaum Muslimin. Begitu bencinya sampai ia menyuruh budak-budaknya melemparkan kotoran dan batu kepada Rosululloh setiap kali beliau lewat.