Kegemilangan Karier Pelatih di Jerman

Komitmen, Kegemilangan pelatih-pelatih Jerman tersebut tentu tidak mengejutkan dan tidak terjadi begitu saja. Sama seperti membentuk pemain muda, Jerman sudah lama memberikan perhatian khusus pada pelatih-pelatih sepakbola.

Tidak hanya untuk menjadi pemain sepakbola profesional saja, meniti karier sebagai pelatih juga memerlukan kursus khusus untuk melakukan kegiatan pelatihan atau mengawasi pertandingan di level tertinggi.

Melansir panditfootball.com, di Jerman para pelatih harus mendapatkan lisensi kepelatihan yang setara dengan lisensi Pro UEFA untuk melatih di tiga divisi teratas liga (Bundesliga, Bundesliga 2, dan 3). Lisensi tersebut biasa didapatkan dari kualifikasi Fußball-Lehrer atau guru sepakbola, satu-satunya tempat untuk mengikutinya adalah di akademi Hennes-Weisweiler di Cologne.

Akademi kepelatihan sepakbola yang bergensi tersebut dibentuk pada tahun 1947, dinamakan berdasarkan pelatih legendaris Gladbach dan Cologne, yaitu Weiweiler. Akademi ini cukup kompetitif untuk diikuti, setiap tahun hanya 24-25 orang saja yang dipilih setelah mengikuti tes bakat yang cukup ketat. Siapapun yang ingin mengikuti pelatihan ini bahkan harus sudah memiliki lisensi DFB A, minimal pengalaman satu tahun melatih suatu tim, dan menjadi bagian dari salah satu klub DFB.

Pelatihan dilakukan selama 11 bulan, dalam waktu tersebut para calon pelatih akan mempelajari semua aspek sepakbola modern dengan penekanan kuat pada pengaplikasian praktis. Pelatihan ini mengalami perubahan pada semester 2019/20 dengan dibuat lebih individual. Para calon pelatih akan menghabiskan sebagian besar waktu untuk bekerja di klub profesional yang dipilih, meski begitu mereka tetap akan datang ke Cologne delapan kali dalam semusim untuk mengikuti workshop.

Baca juga :   Jangan Bully, Biarkan Garuda Muda Berproses Lebih Matang

Dalam lisensi Pro, UEFA menetapkan pelatihan setiaknya 240 jam, namun pelatih yang mengikuti akademi Hennes-Weisweiler akan menghabiskan paling tidak 800 jam selama masa pelatihan. Jadi, jangan terkejut dengan kinerja yang dilakukan Hansi Flick, Nagelsmann, atau Tuchel. Nagelsmann menyatakan, “Pendidikan pembinaan di Jerman itu bagus. Saya menikmati masa belajar yang baik sebagai pelatih dan puas dengan apa yang saya pelajari selama ini.

Kualitas pembinaan pelatih di Jerman sejalan dengan perubahan sistem yang dilakukan pada awal 2000an yang mengacu pada perkembangan pemain muda. DFB telah mendirikan pusat pelatihan di setiap regional, selain itu DFB juga mewajibkan klub-klub Bundesliga mendirikan akademi untuk pemain muda, masing-masing akademi klub akan membutuhkan setidaknya dua pelatih dengan lisensi. Prinsip sepakbola Jerman cukup sederhana, jika ingin memiliki pemain terbaik, dibutuhkan pelatih terbaik.

Hansi Flick adalah salah satu lulusan terbaik akademi Hennes-Weisweiler pada tahun 2003. Sebagian besar orang memang baru mengenalnya sejak menangani Bayern Muenchen awal musim kemarin, namun Flick telah membentuk karier kepelatihannya sejak lama. Pada tahun 2006, ia ditunjuk sebagai asisten pelatih Joachim Loew, yang lebih dahulu mendapatkan lisensi bersama Juergen Klinsmann dan Matthias Sammer. Peran Flick saat itu adalah menyusun database semua pemain Jerman di seluruh level usia dan membuka peluang untuk pemain muda.

Baca juga :   Dibwah Asuhan STY, Timnas U-19 Tanpa Target di Turnamen Kroasia

Pencapaian lainnya dari produk akademi ini adalah ketika Hoffenheim menjadikan Julian Nagelsmann menjadi pelatih kepala pada Februari 2016. Kala itu, Nagelsmann hanya beberapa minggu lagi untuk mendapatkan lisensi kepelatihannya, dia menjadi yang terbaik kedua di angkatannya setelah mantan pelatih Schalke, Domenico Tedesco. Orang-orang memang terlalu fokus melihat umurnya yang tidak lazim sebagai pelatih, namun Hoffenheim mengetahui apa yang mereka lakukan.

Karier Nagelsmann kian naik setelah membawa Hoffenheim ke kancah Eropa hingga akhirnya bergabung dengan RB Leipzig dan menjadi semifinalis Champions League. Dalam kompetisi tersebut, Nagelsmann berhasil mengalahkan ‘orang lama’ sekelas Jose Mourinho dan Diego Simeone. Hal itu adalah bukti keberhasilan metode akademi pelatih Jerman yang luar biasa. Pelatih berusa 33 tahun ini dikenal sebagai inovator dengan menggunakan teknologi di tempat latihan serta menjadi ahli taktik yang tajam.

Tidak mengherankan jika saat ini pelatih-pelatih asal Jerman mendominasi kompetisi dan penghargaan di Eropa. Mereka adalah hasil dari proses panjang reformasi sepakbola Jerman pada tahun 2000an yang mengedepankan sosok muda sebagai ujung tombak.