komitmen.id

Ini Pesan Menteri Siti pada Peringatan HKAN 2020

Komitmen, Jakarta-Hari Konservasi Alam Nasional tahun 2020, dengan mengusung tema: “Nagara Rimba Nusa-Merawat Peradaban Menjaga Alam”. Berikut pesan MenLHK Siti Nurbaya pada Peringatan HKAN, Senin (10/8/2020).

Sejak tahun 2009 Pemerintah menetapkan tanggal 10 Agustus sebagai Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN).

Penetapan Hari Konservasi Alam Nasional dan memperingatinya secara terus menerus merupakan upaya untuk menjaga kesinambungan kegiatan konservasi alam, memasyarakatkannya, dan menjadikan konservasi alam sebagai bagian dari sikap hidup dan budaya bangsa.

Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk melestarikan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, yang kita ketahui bersama merupakan sistem alam yang menjadi penyangga kehidupan kita.

“Alhamdulillah peringatan HKAN ini semakin banyak mendapatkan perhatian dan dukungan serta mampu menggerakkan partisipasi banyak pihak,” ajak Menteri Siti.

Menteri LHK Siti Nurbaya menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta serta masyarakat dari berbagai instansi dan profesi yang telah berpartisipasi penuh sehingga acara “Aksi Bersih Kawasan Konservasi dan penanaman pohon di TWA Angke Kapuk ini dapat terlaksana dan diikuti oleh ± 226 orang. “Aksi bersih ini juga dilaksanakan secara serentak di kawasan konservasi di seluruh Indonesia. Juga kepada unsur-unsur masyarakat yang sebelumnya telah melaksanakan berbagai kegiatan dalam rangka Road to HKAN di berbagai wilayah di Indonesia,” sebagaimana di ucapkan MenLHK dalam pidato HKAN.

Selanjutnya dijelaskan Menteri Siti, konservasi alam pada dasarnya telah menjadi budaya bangsa ini sejak jaman kerajaan-kerajaan Nusantara dulu. Kita masih dapat mengetahui bagaimana para leluhur kita masa itu memanfaatkan sumber daya alam secara arif dan bijaksana. Mereka hidup beradaptasi dengan alam, mempelajarinya, dan mengambil manfaat sesuai dengan sifat dan kondisi keberadaan sumber daya alam tersebut. Pengaturan dan larangan yang dilakukan pada waktu itu pada dasarnya merupakan bagian dari upaya perlindungan alam dari kerusakan dan kepunahan. Kemudian ketika pengetahuan tentang sifat sumber daya alam semakin banyak, diterapkanlah teknik-teknik budidaya sehingga kemudian berkembang budaya bercocok tanam dan beternak sebagai upaya menyikapi meningkatnya kebutuhan sejalan dengan berkembangnya populasi manusia.

“Itulah kaidah konservasi alam. Memanfaatkan sumber daya alam untuk kehidupan namun tetap menjaganya dari kerusakan dan kepunahan. Nenek moyang kita telah memulainya dengan cara-cara yang sederhana tetapi melekat dalam budaya dan kehidupan mereka sehari-hari sehingga dapat bertahan puluhan bahkan ratusan tahun lamanya. Tanah, air, udara, serta beraneka ragam jenis tumbuhan dan satwa yang ada dan kita manfaatkan sekarang pada dasarnya adalah hasil dari kearifan tradisi leluhur kita dalam memandang dan memperlakukan alam. Tentunya sekarang giliran kita untuk juga memperlakukan alam secara arif agar keberadaan dan manfaatnya lestari hingga masa-masa mendatang,” bebernya.

Selanjutnya Menteri Siti menuturkan bahwa, indonesia telah lama dikenal sebagai “Megabiodiversity Country atau negara yang alamnya mengandung keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, baik di darat maupun perairan. Sebagai contoh keanekaragaman jenis fauna yang sudah diketahui (LIPI, 2014) di antaranya 720 jenis mamalia (13% dari jumlah jenis dunia), 1.605 jenis burung (16% jumlah jenis dunia), 723 jenis reptilia, 1.900 jenis kupu-kupu, 1.248 jenis ikan air tawar, dan 3.476 jenis ikan air laut.
Jumlah itu belum termasuk jenis-jenis invertebrata seperti udang, kepiting, laba-laba, dan serangga lainnya.

Sejalan dengan itu, Indonesia juga menjadi salah satu Biodiversity hotspot atau wilayah yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi namun tingkat keterancaman atas kepunahannya juga tinggi. Kepunahan tersebut disebabkan oleh terjadinya perubahan habitat, pencemaran, eksploitasi sumber daya alam hayati secara berlebihan, berkembangnya jenis asing invasif, dan perubahan iklim. Kita tentunya memahami bahwa bertambahnya kebutuhan lahan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati tidak dapat dihindari sejalan dengan kepentingan pembangunan dan perkembangan jumlah penduduk. Namun penerapan pengelolaan yang baik dan benar diharapkan dapat meminimalisir dampak negatifnya terhadap kelestarian sumber daya alam.

“Kawasan konservasi merupakan rumah bagi keanekaragaman jenis satwa dan tumbuhan, sehingga keberadaannya harus kita jaga dan pelihara, namun demikian kita juga tidak boleh melupakan aspek pemanfaatannya, potensi yang ada di dalamnya juga harus dapat kita manfaatkan bagi kepentingan masyarakat luas. Keindahan alam kawasan konservasi harus dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah konservasi, serta dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan. Salah satu bentuk pemanfaatan kawasan konservasi adalah melalui pariwisata alam. Bahkan beberapa kawasan konservasi menjadi bagian dari kebijakan pemerintah yang kita sebut sebagai destinasi pariwisata prioritas dan destinasi pariwisata super prioritas nasional,” ulas Menteri Siti.

Terjadinya penyebaran wabah penyakit COVID-19 yang menjadi pandemik tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia, berdampak tidak pada hanya pada kesehatan dan jiwa manusia, tetapi juga berdampak pada berbagai bidang bidang sosial dan ekonomi, termasuk sektor pariwisata termasuk wisata alam yang mengakibatkan menurunnya akitivas kunjungan wisata ke kawasan konservasi.
Pada masa pandemi Covid-19 banyak pelaku wisata alam di kawasan konservasi yang kehilangan sumber pendapatannya, mengingat beberapa waktu lalu terjadi penutupan akses bagi wisata alam di kawasan konservasi sebagai salah satu upaya mencegah penyebaran Covid-19. Dalam merespon itu, Menteri LHK, Menteri Parekraf dan Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pada tanggal 22 Juni 2020 telah melakukan konferensi pers bersama tentang rencana pembukaan kembali secara bertahap beberapa kawasan konservasi untuk kegiatan wisata alam dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan pada saat pandemi Covid-19.

“Kebijakan reaktivasi atau pembukaan kembali kunjungan wisata alam merupakan langkah boosting bagi kegiatan pemulihan ekosistem dan ekowisata berkelanjutan (Sustainable Eco-Tourism). Penetapan reaktivasi TN/TWA/SM tertuang dalam Keputusan Menteri LHK No. SK.261/MENLHK/KSDAE/KSA.0/6 /2020 tanggal 23 Juni 2020 tentang Kebijakan Reaktivasi Secara Bertahap Di Kawasan Taman Nasional (TN), Taman Wisata Alam (TWA), dan Suaka Margasatwa (SM) dalam kondisi Transisi Akhir COVID-19 (New Normal). Unit Pelaksana Teknis (UPT) KLHK dan Pemda telah melakukan berbagai persiapan di tingkat tapak guna memastikan tidak terjadinya penyebaran COVID-19 dengan kunjungan wisata tersebut,” tegasnya.

Pasca COVID-19, tentunya harapan kita akan terjadi perubahan perilaku masyarakat untuk menyegarkan fisik dan mental dengan bepergian ke berbagai tempat wisata, termasuk destinasi wisata alam di SM, TN dan TWA. Prediksi tersebut akan menciptakan optimisme dan peluang bagi para pihak di sektor pariwisata alam untuk ikut mendukung kebangkitan dan pemulihan kondisi masyarakat dari sisi mental, fisik serta pemulihan ekonomi negara. Di sisi lain, timbul pula kekhawatiran akan terjadinya euforia berlebihan yang dapat membahayakan obyek dan daya tarik wisata alam akibat aktivitas pariwisata alam yang tidak terkendali (mass tourism). Oleh karena itulah penentuan kuota pengunjung melalui penghitungan daya dukung dan daya tampung menjadi hal yang penting untuk dilakukan.

Untuk mendukung kegiatan pariwisata alam pasca pandemi COVID 19 kita mengusung konsep forest for healing yang berakar kuat dari sikap hidup dan budaya living with nature yang tidak mengedepankan jumlah kunjungan (mass tourism) namun justru quality tourism yang mengedepankan inovasi untuk menambah durasi kunjungan dan kemanfaatannya dari aspek kemanusiaannya dan kelestarian alamnya. Seiring dengan optimisme yang sedang dibangun, living with nature merupakan salah satu cara pemulihan yang potensial dilakukan.

“Kawasan konservasi dengan pariwisata alamnya menjadi salah satu kekuatan bangsa Indonesia untuk dapat pulih pasca COVID-19 dalam tatanan baru (new normal). Matthew Silverstone (dalam buku Blinded by Science pada 2014) menyebutkan bahwa berwisata dengan mengaktifkan interaksi panca indera dengan elemen alam, terbukti mampu meningkatkan kondisi fisik, emosional dan kesejahteraan spiritual, memberikan energi dan ketenangan. Pemulihan mental dan fisik individu dan masyarakat dapat dilakukan melalui kegiatan forest for healing di kawasan konservasi,” ujar Menteri Siti.

Dengan demikian, pentingnya memulihkan kehidupan dan peradaban manusia yang harmoni dengan alam dalam rangka menyongsong era baru (new normal) pasca pandemi COVID-19 ini akan menjadi semangat dalam peringatan HKAN tahun 2020. Hal ini tentu sejalan dengan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) sebagai momentum keteladanan dan aksi nyata memasyarakatkan konservasi alam sebagai sikap hidup dan budaya bangsa Indonesia.

Kemudian, pemerintah telah mengeluarkan berbagai aturan dan kebijakan untuk melestarikan sumber daya alam yang menjadi penunjang kehidupan kita ini. Namun tentunya aturan dan kebijakan tersebut hanya akan berhasil mencapai tujuannya jika didukung dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh, dengan memposisikan kita semua sebagai agen moral.

“Pemerintah juga melakukan upaya mendorong partisipasi masyarakat dalam konservasi sumber daya alam dengan memberikan apresiasi kepada individu maupun kelompok masyarakat melalui pemberian Anugerah Konservasi Alam.
Pemberian anugerah Konservasi Alam ini sejatinya adalah amanah bagi penerimanya untuk terus berkarya bagi lingkungan hidup, kehutanan dan kegiatan konservasi satwa dan tumbuhan. Kegiatan dan karya mereka yang telah memberikan dampak nyata bagi peningkatan ekologi, sosial dan ekonomi perlu dikembangkan dan direplikasi sebagai daya ungkit untuk mendorong inisiatif dari individu dan kelompok masyarakat lainnya untuk berperan aktif dalam melakukan kegiatan konservasi dan pelestarian sumber daya alam,” pesan Menteri Siti.

Untuk itu pada kesempatan yang baik ini saya mengajak saudara-saudara semua untuk mari bersama-sama melakukan konservasi alam. Konservasi alam tidak hanya sebatas di kawasan konservasi.

“Karena itu mari kita mulai dari lingkungan kita masing-masing melalui hal-hal yang paling sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan sungai, mengendalikan sampah plastik, menanam pohon, dan lain sebagainya. Kita jadikan konservasi alam sebagai bagian dari sikap hidup kita sehari-hari agar selanjutnya berkembang menjadi budaya bangsa yang dapat kita wariskan kepada generasi-generasi penerus kita,” ajaknya Menteri LHK, Siti Nurbaya.

Exit mobile version