Komitmen, SEGELAS susu jatuh dari tangan sang ibu hingga gelas itu pecah. Lalu anaknya membentaknya di hadapan wajahnya dan meninggalkan kamarnya sambil marah.

Lalu sang ibu menulis sepucuk surat untuk anaknya tercinta.

Ketika anaknya pulang, ia pun mendapati sang ibu sedang tidur di kursinya seperti biasanya, dan surat itu di letakkan di kamarnya.

Diambil lah surat itu lalu ia baca:

“Wahai anakku, cintaku, pujaan hatiku..!! Aku minta maaf, kini aku sudah tua renta dan tanganku pun sudah lemah sehingga makanan pun jatuh dari tanganku di atas dadaku.

“Wahai anakku, aku tidak akan kembali lagi menjadi wanita yang cantik menawan dan harum semerbak, maka janganlah engkau cela aku dengan keadaanku saat ini.”

“Wahai anakku, aku tidak akan kembali menjadi wanita yang kuat sehingga aku bisa memakai pakaian dan alas kaki sendiri, maka bantulah aku..”

“Wahai anakku, kakiku saat ini sudah melemah sehingga tidak mampu lagi membawa tubuhku sendiri walaupun hanya untuk ke kamar mandi. Maka genggamlah kedua tanganku ini, ingatlah anakku berapa banyak tanganku ini telah menggenggam tanganmu di saat engkau masih kecil dan belajar berjalan, dan aku tidak pernah merasa bosan walaupun hanya satu hari.”

“Wahai anakku, janganlah engkau merasa bosan karena kepikunanku, dan terbata-bata ucapanku..”

“Sungguh seluruh kebahagiaanku adalah di saat berada di sampingmu..’

“Di saat kecilmu, canda tawamu adalah kebahagianku, maka janganlah engkau haramkan senyummu untukku..”

“Dan saat ini aku hanyalah menunggu datangnya kematian menjemputku. Sungguh aku telah menemanimu di saat melahirkanmu, maka tetaplah engkau berada disisiku disaat kematianku..”

Sang anak pun menangis dan mengusap air matanya dengan ujung baju ibunya, dengan mengambil kedua tangannya ia pun berkata,
“Wahai ibuku maafkanlah aku.”

Tetapi tangannyapun sudah terasa dingin, sedingin salju karena ajal telah datang menjemputnya.

Baca juga :   Rasanya Ini Bisa Kita Jadikan Untuk Koreksi Diri

Berbuat baiklah kepada ibumu sebelum engkau kehilanganya.