Hati-hati dengan Dangdut

by: Esye Lapimen

Komitmen, Apabila rembulan muncul malam ini, aku akan bertanya padanya, “apakah matahari begitu kasar, membakar kulitmu yang putih sepanjang perjalanan tadi?”

Belum sempat aku tanyakan, suara rembulan lebih dahulu mengalun di telingaku, mengabarkan kepadaku, tentangmu. Katanya, kau baik-baik saja. Dingin kotamu akan mengobati jika terjadi lepuhan pada kulitmu, tetapi tidak pada hatimu. Aku anggap, rembulan jujur kali ini. Bagaimana denganmu?

Kekasihku, setelah kepergianmu. Kau dan aku telah berjauhan. Hanya hati kita yang mendekat. Dekat dalam dekapan ingatan kita berdua. Ingatan, ya ingatan. Hanya ingatan yang membuat kita untuk tak segera lupa.

Kekasihku, berjauhan telah menjadikan kedua insan merasakan adanya perpisahan. Perpisahan yang bermuara pada rindu. Seperti yang kita alami. Tetapi ketahuilah, hanya orang mati yang tidak pernah lagi merasakan rindu. Maka, beruntunglah jika perpisahan ini, kau masih merasakan adanya kerinduan.

Kekasihku, tetaplah berhati-hati. Sebab, lelehan rindu yang kau tunaikan akan terus menjadi rindu-rindu yang baru, begitu seterusnya. Sekali lagi, hanya orang mati yang tidak pernah merasakan rindu.

Oh iya, satu hal lagi. Saat-saat perpisahan ini. Janganlah mencoba untuk memutar lagu dangdut. Sebab, lagu-lagu itu akan mengantarkanmu pada kesedihan yang mendalam. Tidak percaya?

Baca juga :   Pohon Kekar Itu Renta di Depan Mataku

Aku telah menjadi korbannya. Setelah kepergianmu, banyak hal yang mulai terpikirkan. Sulit bagiku untuk menyebutnya satu persatu. Salah satunya adalah perkataan terakhirmu sebelum kau beranjak pergi, “jangan menangis! Aku tidak akan lama.”

Betul katamu, dan Aku tidak akan menangis. Mana mungkin lelaki sepertiku menangis, hanya karena perpisahan untuk sementara waktu.

Tetapi, bayangmu terus menari di alis mataku, kulihat kau tertawa cekikitan sambil sesekali memperlihatkan wajah murung. Seperti biasa, bila tingkah lakumu tidak direspon sesuai inginmu.

Saat seperti itulah, aku memutar lagu dangdut yang didendangkan oleh Imam S. Arifin, “Imam lelaki mana yang tak bergoyang bila memandang wajahmu sayang… begitu sempurnanya Tuhan ciptakan engkau juwita, amboi indahnya, kalau saja aku nanti, gagal mendapatkannya lebih baik aku kini pensiun jadi lelaki”

Kau tahu? Lagunya mengalun begitu merdu dan syahdu. Tetapi perasaanku semakin kacau. Ingatanku hanya padamu. Aku ingin menangis saat itu, tetapi aku mengingat pesanmu.

Pernah juga suatu hari, aku memutar lagu mabuk duit. Tiba-tiba saja, Aldi, anak tetangga datang bersama kawan-kawannya. Berteriak lalu bergoyang begitu riang mengikuti irama. Setelah lagu usai, mereka kemudian berlarian meninggalkanku dan tertawa bersama kawan-kawannya. Kau tahu? Keceriaannya terasa mengejekku. Bagaimana tidak? Coba bayangkan, mereka hanya anak kecil berumur lima tahunan. Mampu bergoyang mengikuti irama, sedangkan aku larut dalam ingatan tentangmu.

Baca juga :   Komitmen Pintu Langit

“Bayang-bayangmu menari di ujung mata, mengusik hati yang lama terasa mati. Kehadiranmu bagai mata air cinta, tak pernah kering dari rasa-rasa rindu. Andai pun ku tenggelam, rela aku rela.” Meggi Z mengalun merdu, rasanya perasaanku terwakili. Aku merasakan kedalaman lagu itu. Tanpa terasa mataku mengeluarkan cairan.
Kekasihku, karena itulah aku memperingatkanmu. Hati-hatilah dengan dangdut.

Rombongan Aldi tiba-tiba datang lagi bersama kawanannya. Mereka seperti kupu-kupu mengepakkan sayap. Aku merasa terusik, namun bukanlah sesuatu hal baik mengusir anak kecil yang bersenang-senang. Mereka berjoget dan terus berjoget, ringkikan suaranya sayup-sayup terdengar ditelingaku. Segala gerakannya seakan-akan menertawaiku.

Kekasihku, apakah kau telah mendengarkan lagu dangdut, sebelum tulisan ini selesai? Jika, ya. Lebih baik tulisan ini, aku hapus saja.