Dibalik Kematian 7 Jendral, Begini Sejarah Museum Sasmitaloka

Komitmen, Makassar-Museum Jendral Besar Dr. A.H. Nasution atau dikenal dengan sebutan Museum Sasmitaloka dahulunya merupakan rumah pribadi Nasution dan keluarga sejak menjabat sebagai KSAD tahun 1949 hingga wafatnya pada tanggal 6 September 2000.

Selanjutnya keluarga Nasution pindah rumah pada tanggal 29 Juli, 2008 sejak dimulainya renovasi rumah pribadi menjadi museum.

Secara pribadi penulis bangga bisa menginjakkan di museum bersejerah milik Jenderal Besar DR. A.H. Nasution. Tepatnya 2 tahun lalu, 29 September 2018, sebelum adannya wabah yang dikenal Covid-19, lidah orang awam menyebutnya Corona.

Pengorbanannya patut diapresiasi seluruh bangsa dan negara, Nasution kehilangan anak dan istrinya tewas ditangan G 30 S/PKI yang dilakukan pasukan Cakrabirawa

Sesampainya di Museum Sasmitaloka Abdul Haris Nasution. Ruang utama menyambut para tamu, terlebih dahulu menuliskan buku tamu sebagai tanda bahwa pernah berkunjung ke Museum. Sesuai namanya, ruang ini merupakan tempat Jend. A.H. Nasution dengan sofa warna abu-abu menjadi favorit beliau menjamu tamu.

Di ruang tersebut terpampang beberapa foto yang sulit untuk dilukiskan satu persatu. Puas melihat ruang tamu penulis melanjutkan ke ruang kerja Jend. A.H. Nasution, di tempat itulah sang Jenderal menuangkan ide dan buah pikirannya, banyak hasil karyanya ditulis untuk dipersembahkan kepada bangsa dan negara.

Lebih ke dalam terdapat ruang senjata yang berhadapan dengan ruang tidur, dimana ruangan ini merupakan saksi bisu kekejaman G 30 S/PKI (pasukan Cakrabirawa) yang berupaya menculik dan membunuh Jend. A.H. Nasution pada tanggal 1 Oktober 1965.

Tanggal 1 Oktober 1965 tempat ini terjadi peristiwa dramatis yang hampir menewaskan Jenderal Besar DR. A.H. Nasution. Pada peristiwa tersebut PKI dengan G 30 S-nya berupaya menculik dan membunuh Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, dimana pada saat itu menjabat Menko Hankam/Kasab.

Namun ia berhasil menyelamatkan diri dan luput dari dari pembunuhan, tetapi putri kedua beliau yang bernama Ade Irma Suryani Nasution dan Ajudannya Lettu Czi Pierre Tendean gugur dalam sejarah kelam tersebut.

Sejak luput dari peristiwa berdarah itu Jenderal Besar DR. A.H. Nasution semakin mengembangkan berbagai gagasan dan pandangan inovatifnya, dituangkan dalam bentuk tulisan, baik berkaitan dengan tema kemiliteran, kenegaraan maupun ilmu pengetahuan umum lainnya. Seperti buku berjudul Memenuhi Panggilan Tugas (9 jilid), Sekitar Perang Kemerdekaan dan Misi Sejarah, Serta buku Perang Gerilya yang diakui secara internasional.

Baca juga :   Sejarah Tempe dan Tahu yang Wajib Kita Tahu

Sebagai wujud penghormatan terhadap karya Jenderal Besar DR. A.H. Nasution dan dalam rangka mengumpulkan, memelihara serta merawat koleksi benda sejarah tersebut maka Kasad mengeluarkan Surat Perintah Nomor Sprin 1459/VIII/2007 tanggal 14 Agustus 2007 tentang pembentukan Museum Jenderal Besar DR. A.H. Nasution.

Sebagai realisasi dasar surat perintah tersebut maka dimulailah renovasi dan penataan kediaman Jenderal Besar DR. A.H. Nasution sejak bula Juli 2007 sampai dengan November 2008. Pada tanggal 3 Desember 2008 bertetapan dengan hari kelahirannya, 3 Desember 1918.

Museum Jenderal Besar DR. A.H. Nasution ini diresmikan oleh Presiden RI, DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono. Resminya Museum Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, diharapkan dapat dijadikan wahana pengenalan tokoh Pahlawan Nasional Jenderal Besar DR. A.H. Nasution menjadi wisata edukasi, media belajar sejarah, media transformasi nilai-nilai luhur, serta media mengenal potret masa lalu.

Gerakan 30 September PKI (G30 S /PKI), Gerakan September Tiga puluh (GESTAPU) adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada tanggal 30 September sampai 1 Oktober 1965.

Tujuh perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha kudeta.

Berikut tujuh jendral yang dibunuh PKI melalui pasukan elitenya Cakrabirawa:

1. Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani

Ahmad Yani merupakan komandan TNI AD yang lahir pada tahun 19 Juni 1922 di Purworejo.

Ia menjadi sasaran PKI lantaran sangat menentang keberadaan faham komunis di tanah air.

Jenderal TNI Ahmad Yani sempat berdebat sengit saat rumahnya dikepung tentara antek-antek PKI, tentara Cakrabirawa.

Namun, perdebatan itu justru membuat sang jenderal bersimbah darah karena ditembak oleh para tentara tersebut. Jasadnya pun dibawa dan dikubur di Lubang Buaya.

2. Letnan Jenderal Anumerta Suprapto

Letnan Jenderal Anumerta Suprapto adalah salah satu pahlawan nasional yang lahir di Purwokerto, 20 Juni 1920.

Dirinya juga diculik dari rumahnya dan dibantai di Lubang Buaya.

Sebelum akhirnya tewas di tangan PKI, Suprapto pernah meredam beberapa pemberontakan PKI di berbagai wilayah seperti Semarang dan Medan.

3. Letnan Jenderal M.T. Haryono

Letnan Jenderal TNI Anumerta atau Mas Tirtodarmo Haryono (MT Haryono) lahir di Surabaya, 20 Januari 1924.

Letjend yang mengerti 3 bahasa asing ini juga diculik pada saat hari kejadian. Kemudian dibantai dan jasadnya dilempar ke dalam sebuah sumur yang akrab dengan sebutan lobang buaya.

Baca juga :   Media Online Komitmen Ucapkan Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-92

4. Letnan Jenderal Siswondo Parman

Siswondo Parman atau lebih dikenal dengan nama Letjen S. Parman adalah salah satu pahlawan revolusi Indonesia dan tokoh militer Indonesia.

Lahir di Wonosobo, 4 Agustus 1918. Merupakan perwira intelijen yang dekat dengan PKI serta mengetahui kegiatan rahasia mereka.

Namun saat ditawari bergabung dengan PKI, S Parman menolak. Karena itulah beliau meninggal dibunuh pada malam persitiwa Gerakan 30 September dan mendapatkan gelar Letnan Jenderal Anumerta.

Otak pembantaiannya yakni kakaknya sendiri Ir. Sakirman yang merupakan petinggi PKI saat itu.

5. Mayor Jenderal Pandjaitan

Brigadir Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan lahir di Sumatera Utara, 19 Juni 1925.

Beliau dan bersama para pemuda anak bangsa lain yang dulunya merintis pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang merupakan cikal bakal TNI saat ini.

Saat itu beliau menggunakan seragam militer lengkap ketika tahu bahwa sekelompok anggota PKI datang ke rumahnya dan telah membunuh pelayan serta ajudannya.

Segera setelah beliau menantang para pemberontak itu, peluru langsung menghujam tubuhnya dan mayatnya dibawa ke Lubang Buaya.

6. Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo

Mayor Jenderal TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo lahir di Kebumen, 23 Agustus 1922.

Beliau juga diculik di rumahnya dan dibantai di Lubang Buaya.

Para penculik mengatakan Mayjen Sutoyo dipanggil oleh Presiden Republik Indonesia pertama Ir. Soekarno, tapi ternyata itu bohong.

7. Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo

Brigjen Anumerta Katamso Darmokusumo lahir di Sragen, 5 Februari 1923.

Tak seperti pahlawan revolusi sebelumnya, Brigjen Katamso pada hari terjadi pemberontakan sedang bertugas di Yogyakarta.

Beliau kemudian diculik, dipukuli tubuhnya dengan mortar motor.

Kemudian dimasukkan ke lubang yang sudah disiapkan anggota PKI. Peristiwa ini terjadi di wilayah Kentungan.

Selain tujuh jenderal TNI di atas, PKI melalui pasukan elitnya juga menghabisi sejumlah anggota TNI dan Polri lain seperti AIP Karel Satsuit Tubun, Kapten Pierre Tendean, dan Kolonel Sugiono.

Bahkan, Putri jenderal TNI AH Nasution, Ade Irma Suryani Nasution juga harus bersimbah darah tepat didekapan ibunya karena ditembak PKI saat malam G30S/PKI.