FacebookTwitterEmailGmailWhatsApp


Komitmen – Rasa cemburu dan iri terhadap kehidupan orang lain akan selalu menggelayuti hati manusia. Terlebih melihat kesuksesan karier orang lain, dengan cemburu buta dibarengi iri hati menjadikan keberadaan orang lain hanyalah kompetitor atau pesaing, bukan partner atau mitra.

Bahasa awamnya susah melihat orang senang, dan senang melihat orang lain susah, hal bisa jadi sulit kita hapus dari persaingan hidup, apatah lagi memasuki masa pandemi covid-19 yang nyaris menyentuh angka 2 tahun.

Bukan hanya karena orang tersebut baru kita kenal di tempat kerja, bahkan kawan lama pun susah menghilangkan rasa cemburu dan iri hati, menggunakan segal secara bergantian untuk memulangkan seseorang yang tidak satu visi dan misi.

Pasangan romantis yang memberikan perhatian pada orang lain yang lebih menarik dapat membuat pasangan hidup pun merasa terancam.

Dari sanalah rasa iri berasal. Timbul pertanyaan kita semua, Mengapa saya tidak bisa menjadi si A yang sukse? Mengapa saya tidak bisa memiliki pasangan yang baik, tidak seperti A, beruntung sekali hidupnya?

Hanya segelintisr orang saja yang berpendapat bahwa kecemburuan dan iri hati adalah hal yang baik. Padahal, kedua emosi tersebut merampas kebahagiaan dan hubungan kita dengan orang lain. Kenapa? karena keduanya secara hirarki memupuk perpecahan dengan menciptakan kerinduan akan sesuatu yang mungkin tidak kita miliki.

Meskipun rasa cemburu dan iri hati sering datang silih berganti, namun keduanya tidaklah sama. Iri hati adalah perasaan yang dirasakan ketika kita menginginkan kualitas atau hal yang dimiliki orang lain. Kualitas itu mungkin, rejeki, keberuntungan, intelektual, spiritual, atau fisik.

Orang yang iri hati, hidupnya tidak bahagia, pasalnya hidupnya dipenuhi rasa iri pada temannya yang terlihat bahagia dan riang, tanpa khawatir atau stres. Seseorang yang kurang kreatif mungkin iri pada keberhasilan orang lain, hingga berhalusinasi menginginkan keberhasilan yang sama, padahal tong kosong nyaring bunyinya.

Dalam hal iri pada sesuatu, hal itu sering kali bermuara pada uang. Orang sering merasa iri pada mereka yang punya uang untuk membeli mobil bagus, rumah mewah, atau usahanya berkembang dengan baik.

Sementara, kecemburuan hadir ketika sesuatu yang sudah kita miliki diancam oleh orang lain. Seseorang mungkin merasa cemburu pada pasangannya yang menghabiskan waktu dengan teman yang tampan, atau melihat sang mantan menikah sama orang lain misalnya.

Betul, rasa cemburu itu bumbunya kehidupan apabila tujuannya baik, faktanya kecemburuan sering kali membawa sedikit pengkhianatan dan amarah: contohnya, “bagaimana bisa kekasihku melakukan itu padaku !?,”

Memisahkan rasa cemburu dan iri hati tidak semudah membalik tapak tangan. Keduanya datang silih berganti datang dan pergi tanpa kesan. Rasa ini begitu bersahabat bersemayam pada hati manusia.

Pasangan yang romantis saja masih dihinggapi rasa cemburu dan iri hati. Misalnya, pasangan kita memberikan perhatian lebih kepada orang lain, pasti menimbulkan kecemberuan. Tak ayal membuat seseorang merasa terancam, marah, kecewa, tidak nyaman, tidak romantis lagi, yang ada hanya rasa benci serta khianat, dari hati itulah adanya rasa kecemburuan dan iri hati.

Reaksi itu hadir lebih banyak tentang hubungan yang dimiliki seseorang dengan dirinya sendiri daripada tindakan pasangannya. Seseorang yang merasa aman, nyaman dalam hubungan pun belum tentu memiliki pemikiran seperti itu.

Kecemburuan dan iri hati meracuni hubungan dan kedamaian pikiran. Keduanya memang akan menghancurkan semua masa depan kita.

Kabar baiknya adalah cemburu bisa menjadi kebaikan apabila kita akan fokus pada cara berhenti cemburu pada orang lain dan berhenti iri hati dengan cara bersyukur atas apa yang kita miliki dan berhenti membandingkan hidup kita dengan kehidupan orang lain.

Sebagaimana di ketahui kita tidak melihat masa lalu, tetapi menatap masa depan.

Baca juga :   Petik Hikmah Menebar Maslahah, Berguru pada Rasulullah