Berobat dengan sedekah
FacebookTwitterEmailGmailWhatsApp

Komitmen – Berbahagialah karena anda sakit, kalimat ini kelihatan paradoks. Setidaknya, bahagia itu  identik dengan kabar bahagia, mendapat bonus dari perusahaan, mendapat sesuatu yang mengandung sanjungan, pujian, mendapat jabatan baru. Ini kok, orang sakit malah disuruh bahagia.

Begini ulasan singkatnya, saat sakit menghampiri, kita tidak usah menghujat Allah SWT karena itu merupakan kondisi alamiah yang acapkali menghinggapi kehidupan manusia.

Sakit seakan menjadi sunnatullah yang tiada terbantahkan. Ketika Allah menghendaki si Fulan sakit misalnya, maka itu akan menjadi takdir Allah SWT yang pasti akan terjadi.

Baik mukmin, kafir, muda atau tua, kaya atau miskin, terpelajar atau orang awam, semuanya tentu akan pernah mengalami sakit, dan itu harus memiliki kesiapan jiwa untuk menyambut kehadiran “tamu agung” itu.

Kesiapan jiwa seperti itulah yang nantinya akan menjelma menjadi sikap sabar, ketika sakit benar-benar menghampiri kita.

Orang yang tidak memiliki kesiapan jiwa model ini tentu akan menyikapi sakit sebagai musibah besar yang patut disesali dan layak dijadikan alasan untuk marah-marah dan selalu berkeluh kesah.

Bahkan, berapa banyak orang yang kotor hatinya berani ‘menggugat’ Allah SWT na’udzubillah, saat Allah menimpakan sakit kepadanya, dengan mengatakan, “Allah tidak adil”, “Allah kejam”, “Allah tidak mengasihiku”, dan seabrek keluh kesah lain yang semua itu sebernanya bermuara pada kegagalan memahami hakikat sakit.

Beragam orang menyikapi sakit, setidaknya Muhammad Hamid Muhammad mengklasifikasikan manusia menjadi empat golongan, terkait dengan sikap mereka dalam menghadapi musibah termasuk sakit yang menerjang kehidupan mereka.

Pertama, orang-orang yang zhalim, yakni mereka yang selalu gelisah dan murka.

Allah SWT telah berfirman “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah [2] ayat, 216)

Baca juga :   Mendoakan Saudara Muslim dan Kebaikan Lainnya

Kedua, orang-orang yang bersabar yakni mereka yang mampu menahan hatinya dari sikap marah terhadap sesuatu yang telah ditakdirkan atas diri mereka. Menahan lidah mereka berkeluh kesah, menahan anggota tubuh mereka dari melakukan tindakan yang biasa dilakukan oleh orng-orang yang marah. Mereka akan mendapatkan pahala dari Allah tanpa batas.

Ketiga, orang- orang yang ridha kepada Allah, yakni mereka yang mampu menyempurnakan tingkatan sabar. Hati mereka merasa tenteram dengan takdir Allah sekalipun menyakitkan, dan selalu ridha dengannya. Mereka ridha terhadap kehendak Allah, dan Allah pun meridhai mereka.

Keempat, orang-orang yang bersyukur. Mereka bersabar karena Allah dan ridha dengan ketentuan Allah. Bahkan, mereka juga bersyukur kepada Allah atas musibah sakit yang menimpa mereka, sebagaimana mereka bersyukur saat mendapatkan nikmat dari Allah.

Mereka bisa ‘berbahagia’ dengan musibahyang melanda mereka. Allah berfirman, “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Q.S. Saba’ [34] ayat 13)

Sikap bersyukur saat mengalami kondisi yang tidak mengenakkan ini benar terwujud secara sempurna dalam pribadi Rasulullah SAW, tatkala beliau ‘ditegur’ oleh istri beliau tercinta karena begitu bersemangatnya beliau dalam mengerjakan shalat malam, hingga kaki beliau bengkak. “Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau berbuat demikian, sedangkan Allah telah mengampuni semua dosamu baik telah lama maupun yang akan datang?” Beliau menjawab: “Apakah tidak sepantasnya jika aku menjadi seorang hamba yang selalu bersyukur”

Berbahagialah karena Anda Sakit

Lho, sakit kok berbahagia? Ya, mungkin ada diantara pembaca yang mempermasalahkan statemen tersebut.

Dan itu hal wajar, karena pernyataan di atas memang kelihatan paradoks. Rasa bahagia itu biasanya menyeruak menyelimuti hati, tatkala kondisi bahagia terpampang di hapadan kita.

Baca juga :   Cara Taubat Anak Durhaka Setelah Ortu Meninggal

Itu bisa mewujud dalam bentuk lulus ujian, atau ketika mendapat jodoh shalihah (plus cantik jelita lagi), juga saat gaji kita naik seratus persen misalnya, atau saat diterima menjadi PNS, saat mendapat sanjungan sebagai menantu teladan, dan kondisi-kondisi lain yang memang kita layak untuk bersuka cita.

Lha, kalau sakit, alur berpikirnya bagaimana, kok kita disuruh berbahagia?

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah pada hari kiamat, wahai anak Adam , Aku Sakit mengapa engkau tidak menjengukku? Anak Adam berkata, ‘Bagaimana aku menjenguk-MU, padahal engkau Rabb semesta alam?’ Allah menjawab, ‘Apakah engkau tidak tahu bahwa hamba-KU si Fulan sakit dan engkau tidak menjenguknya? Apakah engkau tidak tahu bahwa seandainya engkau menjenguknya, niscaya akan engkau dapat bersamanya?

Subhanallah, Allah bersama orang-orang yang sakit. Bahkan, Allaah mencela orang yang tidak mau menjenguk sudaranya yang sakit.

Inilah sebuah penghormatan agung yang disematkan Allah SWT kepada orang yang sakit.

Jika ada orang mukmin yang sakit seolah-olah Allah juga ‘ikut sakit’. “Aku sakit, mengapa engkau tidak menjenguk-KU”.

Ini sebagai bentuk penghormatan kemuliaan, kasih sayang Allah kepada orang beriman yang tergeletak lemah digerogoti rasa sakit?

Sungguh sebuah penghormatan yang lebih agung, kemuliaan dan kasih sayang Allah? Dan, orang yang sakit mendapatkan itu semua. Aamiin.

Artikel ini disadur dari buku Berobat dengan Sedekah yang ditulis oleh Muhammad Albani, Penerbit Insan Kamil